54 [Permulaan]

136 17 0
                                        

Selamat Membaca(berisi flash back)dan itu berlaku di bab-bab selanjutnya yaa, jangan banyak skip klo mau gak mau bingung☆*:

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat Membaca
(berisi flash back)
dan itu berlaku di bab-bab selanjutnya yaa, jangan banyak skip klo mau gak mau bingung
☆*:.。..。.:*☆

Sudah berada pada pelarian, kini mereka kembali melarikan diri. Dengung terompet peperangan menggaung. Prama membaca pesannya dan ia membawa jauh tiga orang lain, menuju lereng Arjuna yang di keramatkan.

Agnibhaya melihat bagaimana mayat bergelimpangan di Awaban. Prajuritnya berpencar membawa berita pada warga desa untuk tidak meninggalkan rumah. Awaban dikepung sepenuhnya dan mereka setia berjaga, sampai praduga akan datangnya orang-orang suruhan Tohjaya tiba.

Terkejut di detik mencekam bukanlah hal yang bisa Agnibhaya lakukan. Merasa di khianati dan dibodohi, Agnibhaya ingin murka pada saudara se-ayahnya itu. Namun ia memilih nyawa lain untuk diselamatkan. Dari jarak pandangnya. Di atas sebuah kuda, Agnibhaya melihat Rudipta dan Prama berlari menjauh, mensejajarkan langkah dengan Ki Agrang yang menggendong tubuh lemah Prama. Mereka pada akhirnya pergi menjauh ke tempat yang lebih aman.

Meski hatinya tak menentu, Agnibhaya harus tetap waras dalam situasi genting ini. Matanya menelisik jauh pada ruang, dimana ia masih melihat bercak darah di lantai. Tapi tangannya mencengkram kuat-kuat lontar berisi catatan Ken Arok tentang perang yang terjadi nyaris empat belas tahun lalu.

Sekarang jadi masuk akal. Anusapati, kenapa semua tertuju padanya? Sedangkan hari ini, fakta di lapangan berkata sebaliknya.

☆*:.。..。.:*☆

Perang Ganter, 1221.

Ken Arok, berdiri sebagai Akuwu Tumapel selama belasan tahun. Ia mengembangkan tanah yang semula kecil meski demikian rakyat dan para pejabatnya makmur dalam pemerintahan Tunggul Ametung. Harta melimpah, gudang dipenuhi emas, perak bahkan berlian dan intan dalam berbagai warna. Batu-batu mulia serta guci berharga tersimpan sebagai tanda bahwa, Tumapel lebih dari sekedar wilayah kecil di bawah kuasa sebesar Kadiri.

Ramalan takkan jadi wujud nyata bila tak diupayakan. Begitulah pesan ayah angkatnya-- Bango Samparan saat menceritakan perihal perjalanannya selama menjadi Akuwu. Selepas ia membunuh Tunggul Ametung dengan kesadaran penuh, Ken Arok menebusnya dengan menjaga apa yang sudah dibangun oleh sang pemimpin Tumapel itu. Ia jaga wanitanya, putranya, kerajaannya, rakyatnya. Semua ia coba perbaiki tapi waktu terus berjalan dan seakan mengejeknya.

Bertepatan dengan itu, datang permintaan permintaan para Brahmana dari tanah Kadiri tentang Maharaja mereka. Mereka ingin bebas.

Maka, usaha yang disebutkan Bango Samparan adalah ini. Kesempatan dimana Tumapel akan berdiri bukan lagi sebagai ke-akuwuan, tetapi sebagai kerajaan yang kuasanya setara dengan milik Kertajaya. Atau bila ia mampu, akan ia bawa Kadiri dalam genggaman tangannya.

Ambisi itu terwujud. Ia benar-benar mengibarkan panji-panji Tumapel di lapangan Ganter.

Dididik putra-putranya yang beranjak remaja untuk memahami peperangan. Tanpa terkecuali Anusapati.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang