55 [Nila dalam Air]

107 15 0
                                        

Lanjut karena semalam tiba-tiba ngantuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lanjut karena semalam tiba-tiba ngantuk

Selamat membaca
☆*:.。..。.:*☆

"Bagaimana keadaan di Awaban? Raden Agnibhaya?"

Pertanyaan itu meluncur dari mulut Rudipta saat Prama dan Ki Angger sibuk makan dengan menu seadanya. Jauh berbeda kala mereka masih menjadi ajudan. Namun, keadaan memaksa mereka. Rudipta juga merawat Soma yang terus memandangi setiap detail wajah adiknya. Ada rindu terpancar pada manik hitamnya, namun tidak sanggup ia ungkapkan.

Prama memandang keduanya. Saat Rudipta menyuapkan sedikit demi sedikit makanan khusus untuk rekannya itu. Dulu Soma tampak gagah, tinggi dan kuat. Lain dengan sekarang, ia tidak mengenali sosok Soma yang kurus kering dengan luka membusuk di sekujur tubuhnya. Bahkan rambutnya panjang tak terawat, bulu-bulu di wajahnya tebal, namun sudah Rudipta pangkas. Soma tampak jauh lebih tua dari usianya.

"Dia bisa menulis kan?" tanya Prama.

Soma bisa mendengar. Laki-laki itu mengangguk pelan menatap sosok Prama yang segera menyuapkan makanannya sampai habis. "Tunggu!"

Segera Prama kembali dengan pelepah kayu yang ia minta pada seorang resi dan arang. Ia mindekati Soma.

"Dia masih makan, Prama!" Rudipta menepis tangan Prama dengan kencang hingga laki-laki itu meringis merasakan panas di punggung tangannya. Sementara Soma tersenyum, nyaris tertawa. Pada akhirnya dua laki-laki itu diam. Prama mengamati Soma, sementara Soma sibuk menelan makanannya.

Selepas menyelesaikan kegiatannya Rudipta kembali, namun memberi jarak pada keduanya. Tangan Prama membimbing Soma untuk menggenggam alat tulis. Netra mereka bertemu, lantas Prama berdeham sesaat.

"Kau menghitung setiap hari, bukan?" Soma mengangguk. "Kau ingat berapa wuku, purnama atau warsa yang sudah kau hitung?"

Soma mengangguk. Ada gurat lega di wajah Prama. Bahunya yang semula tegang, seketika luruh. Ia bimbing kembali Soma untuk menulis. Ia tatap manik mata rekannya itu.

"Aku ingin kau tulis, berapa kali kau dipindahkan dan kapan saja dalam jumlah hari yang kau hitung. Andai kau bisa mengingat kejadian di masa lalu sebelum mereka memenjarakanmu, tuliskan. Demi dirimu, demi Rawina--" Prama menatap Rudipta di belakangnya. "Demi keluarga kalian dan Tumapel."

Soma menatap pada Rudipta dan Ki Agrang bergantian. Tidak ada respon berarti dari adiknya, tepatnya Rudipta. Namun, dari tatapan yang terus terpaku pada manik mata Soma, menunjukkan dukungan san keyakinan bahwa Soma bisa melakukannya. Meski dengan gemetar yang tak kunjung reda. Cara menggores aksara yang langka dan tak semua orang dapat mempelajarinya. Walau goresannya tampak berantakan dan cukup besar hingga memakan sepertiga lebar lontar yang tak seberapa. Soma menuliskan sisa ingatan yang tidak akan ia lupakan.

Dalam aksara sanskrit, tertulis sembilan ratus tiga puluh empat. Artinya itu adalah jumlah sepasar yang terus Soma hitung sepanjang ia mendekam dalam penjara. Nyaris empat belas tahun lamanya. Soma adalah prajurit. Ia tidak bodoh, tidak terkalahkan, ia hanya lemah dalam kuasa yang lebih besar. Maka, yang ia lakukan selama mendekam dalam penjara adalah menjaga agar dirinya tetap waras dan tidak kehilangan akal sehatnya seperti tahanan lainnya. Sebab ia percaya, mungkin... suatu saat, akan ada orang yang bisa menyelamatkannya. Andai kata tidak ada, maka ia akan menunggu sampai ajalnya tiba.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang