Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat membaca!!
☆*:.。..。.:*☆
"Ada yang ingin kau sampaikan padaku, Agrang?"
Gemercik api di tengah tanah lapang malam itu masih terdengar jelas di telinga. Bahkan wajah sang maharaja tampak memantulkan cahaya merah dari besarnya api yang ada di hadapan keduanya. Di balik punggungnya, ia menyembunyikan tangan yang tengah mengepal kuat. Hingga buku-buku jarinya tampak memutih dan menampakkan otot pada lengannya.
"Rudipta adalah anak asuh Ni Jenar, begitulah informasi yang hamba dapatkan Yang Mulia."
"Anak asuh?" tanyanya dengan kening berkerut dalam. Kepalanya ia tolehkan untuk melihat apakah sang ajudan benar sengan ucapannya dan tidak sedang mendustainya. "Apa dia juga melakukan yang selama ini dilakukan para pekerja wanita disana?"
"Tidak, Yang Mulia. Rudipta diperlakukan secara istimewa disana. Hamba pastikan kabar ini benar dan Rudipta masih terjaga jika itu yang anda khawatirkan."
Anusapati tertawa mendengarnya. "Darimana kau bisa seyakin itu, wahai Agrang? Kau hanya ajudanku, bukan saudara atau pamannya!'
Atau, memang dia adalah paman dari gadis itu, lanjut Agrang sedikit meringis dalam hatinya. Bukan bermaksud menipu tuannya, tapi ada sisi hati yang memaksanya berlaku demikian. Agrang lebih memilih diam dan tak menjawab pertanyaan Sang Maharaja.
"Hamba menemui Ni Jenar dan wanita itu menjelaskan pada saya tanpa paksaan. Ni Jenar bisa memastikan jika Rudipta terbebas dari rumor buruk selama ia tinggal di kediaman Ni Jenar."
Cukup tahu bahwa obsesinya pada Rawina berlebihan, Anusapati menganggap ini adalah toleransinya pada seorang dayang yang diam-diam tinggal di luar istana. Sekalipun ada keraguan atas fakta yang baru diketahuinya. Jika ia tidak cukup mengerti sisi lain Rudipta.
Anusapati menghela nafasnya. "Jadi setiap malam dia menyelinap keluar dan bukannya menetap di paviliun?"
Agrang menunduk. "Ampuni hamba, yang mulia. Saya akan memperketat keamanan dan memastikan Rudipta tetap tinggal di dalam paviliun." Sang ajudan menjawab dengan penuh penyesalan.
Dalam sekali gerakan tangan, Agrang terdiam. Anusapati tampak enggan menuruti apa yang akan ajudannya lakukan. Selama ini Agrang yang ia tugaskan mengawasi setiap pergerakan gadis itu, bahkan membuntuti kemanapun Rawina ditugaskan. Selama tindakan yang dilakukan gadis itu tidak merugikannya, Anusapati tidak akan bertindak jauh.
Serta, tentang permintaannya menjadikan Rawina selir, belum mendapat jawaban, baik dari ibu suri Ken Dedes dan Rawina sendiri. Sementara permaisurinya, sedari awal menentang, namun pada akhirnya menerima keputusan apapun yang dibuat suaminya. Karena, semua yang wanita itu lakukan akan berakhir sia-sia. Anusapati tidak akan menghiraukan keberadaannya dan permintaannya. Bagi Anusapati, ia tidak terlihat dan hubungan mereka hanya terbatas pada pernikahan politik untuk menjaga garis keturunan Kerajaan Tumapel.