Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kebakaran besar itu menjadi suatu topik hangat di seluruh kalangan. Ada yang menyebutnya sebagai karma seorang wanita pelacur berdarah dingin. Tempat yang mereka anggap maksiat itu pantas habis dalam kobaran besar api dan menghanguskan isinya tanpa terkecuali sosok pemiliknya, yaitu Ni Jenar.
Rudipta kemudian ditetapkan dalam status pencarian. Ia dianggap terlibat dalam terbakarnya kediaman Ni Jenar dan terbunuhnya para pekerja disana. Sebab, rumor menyebar, tentang gadis yang selama ini dirawat oleh Ni Jenar justru pergi melarikan diri ke dalam hutan saat tempat itu mulai terbakar. Kesaksian itu dibawa hingga ke pengadilan, dalam pengawasan Pranaraja, kemudian Rudipta ditetapkan sebagai tersangka dan buronan keraton.
Disebarlah semua sketsa wajah diatas kertas yang dibeli dari luar negeri, ditempel di setiap kerajaan, wilayah dan desa. Agar mereka bisa membawa Rudipta kembali ke Keraton Agung Tumapel untuk diadili dengan sebenar-benarnya aturan pengadilan.
Meski dalam pelariannya, Rudipta masih memikirkan jalan untuk membebaskan namanya. Sudah lelah bersembunyi, sekarang Anusapati justru memberi perintah untuk menangkapnya. Bahkan, dengan imbalan tertentu bagi mereka yang berhasil menemukannya.
Rudipta hanya bisa menatap pada sketsa wajahnya, sementara Prama tak berkomentar apapun. Mereka akhirnya kembali, membaur dengan rakyat Awaban.
Prama, di hadapan Rudipta saat ini hanya seorang pemuda, bukan ajudan dengan pedang. Di balik celananya hanya ada belati biasa, bukan keris yang dikeramatkan apalagi tajam. Namun, senjata mereka ada di hiasan rambut Rudipta, pemberian Agnibhaya.
"Cangkang kerang." Prama menatap dua hiasan rambut di kepala Rudipta. "Dia tahu kau hanya membawa belati berkarat, tapi itu tidak cukup."
Rudipta mengangguk. Tanpa sadar jemarinya memegang hiasan itu. "Dia cukup pemerhati."
"Bahkan aku harus mengawal seorang buronan pemerintah." Sindiran itu tidak berpengaruh sedikitpun.
Prama membawa Rudipta untuk tinggal dan bersembunyi di wilayah yang dihuni oleh para Brahmana. Satu-satunya tempat yang tidak akan dijamah oleh prajurit keraton ataupun anggotanya, atas perintah Maharaja terdahulu. Rudipta kemudian menawarkan diri untuk menjadi tabib sampai situasinya menjadi lebih tenang dan beberapa dari mereka mengenal masa lalu kelam keluarganya. Prama hanya mengawasi dalam jarak, ketika mereka berusaha menguatkan Rudipta.
Sejarah panjang antara keluarga kerajaan, prajurit, tabib dan para brahmana melekat dari tiga belas tahun lalu. Saat Maharaja membawa kemenangan, namun bagi keluarga Rudipta, Maharaja seperti malaikat maut kala itu. Dalam sekejap semua lenyap. Tanpa alasan apalagi penjelasan. Keberadaan tabib seketika diasingkan dan mereka kembali pada ajaran kepercayaan pada roh dan hal ritual leluhur. Terkadang rudipta merenung. Andai saja orang-orang disekitarnya adalah penganut animisme, mereka yang lebih percaya pada keberadaan roh dibandingkan turut capur dewa. Mereka yang lebih mengenal ilmu hitam dibandingkan pendidikan.
Rudipta akan disebut sebagai jelmaan iblis yang memakan jiwa aslinya.
"Kau bisa hidup sebagai Rawina selama disini," ucap Prama begitu keluar dari rumah yang akan ditinggali Rudipta. Meski sedikit enggan, namun Rudipta tetap mengangguk.