Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langsung dibaca aja Authornya masih nangis di pojokan ☆*:.。..。.:*☆
Mereka yang mengklaim dirinya musuh, tidak pernah memandang darah atau dari rahim mana musuhnya terlahir. Bahkan, sedekat nadi pun sanggup menjadi manusia paling keji dan tak berhati ketika telah memutus semua tali yang menghalangi ambisi. Pun bagi para putra Ken Arok itu.
Darah-darah yang terus mengucur deras dari sayatan pedang dan tembakan panah. Jerit tangis ketakutan memohon ampun agar segera dibebaskan.
Hamba tak bersalah, hamba hanyalah kawula yang mengikuti setiap perintah. Jangan bunuh hamba.
Agnibhaya mendengarnya. Semuanya.
Meski matanya berkaca, jeritan kemarahannya menggema luar biasa.
Di tengah ricuhnya suasana, seorang wanita melewatinya dengan air mata dan panah yang tertancap di punggungnya. Di gendongan wanita itu, seorang anak kecil tengah memeluk erat leher ibunya, menangis, memejam mata ketakutan. Mereka tak saling menatap, tapi sekelebat wangi yang melewati tubuh Agnibhaya, membuat sang Raja Hasin itu menunduk dengan sesak tak tertahankan.
Maka, ia akan menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan dua orang itu.
"Kemana dia pergi?" tanya Pranaraja."
Agnibhaya memicing tajam. "Bukan urusanmu! Dan jangan sekali-kali kau mencari tahu, Pranaraja." Ujaran dingin dan tajam itu membuat Pranaraja mendengkus samar. Ia merasa kalah oleh seorang bocah.
Semua terjadi begitu cepat. Agnibhaya mem-blok setiap musuh yang hendak mengejar Kinanti. Semua ia lawan. Semua ia hempas dan ia hancurkan detik itu juga.
Mereka yang menghalangi jalan Kinanti, maka Agnibhaya akan membalasnya lebih kejam. Agnibhaya akan menghalangi jalan nafas mereka.
Seperti medan perang yang Agnibhaya ingat. Lebih kecil, namun lebih menyakitkan dari yang ia duga. Ini pemberontakan, dari putra selir--Ken Umang. Fakta itu menyakiti, Panji Saprang, Mahisa pun Agnibhaya. Setiap tebasan pedang harus diiringi setetes air mata.
Memang, wujud mereka tak ada disana. Tapi, dengan cara mereka mengincar seluruh keturunan Ken Dedes tanpa terkecuali bahkan anak sekecil Narapati, membuat mereka memberang.
Mahisa lebih murka dari yang biasa ia tunjukkan. Tidak ia tatap kereta kencana, dimana permaisurinya tengah diam bersembunyi bahkan merasa aman sendiri. Lebih miris pada kereta kencana yang ditumpangi selir, telah tergelimpang, terbakar dengan kuda yang mati terpanggang. Ia abaikan tangisan Narajaya yang ketakutan, sedang satupun tidak ada musuh yang mendekat apalagi menyerang. Sialnya, Mahisa tidak tahu kapan dan kemana selirnya pergi membawa Narapati. Mahisa tidak bisa berbuat apapun selain, mencegah semua berakhir lebih buruk.
Panji Saprang dengan luka-luka di tubuhnya. Sama halnya dengan Mahisa, Panji Saprang juga tidak tahu kemana perginya Kinanti dan putranya melarikan diri. Ia hanya meminta, memohon agar mereka selamat. Agar mereka bisa menjauh dan tidak tertangkap oleh siapapun. Jeritannya dan amukannya lebih mematikan dari sayatan pedang. Tatap satu-persatu mata musuhnya sebelum mati, sebelum menghadap pada Dewa kematian, mereka harus tahu bahwa tidak ada pintu nirwana yang menunggu. Akan Panji Saprang pastikan itu.