Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat membaca
☆*:.。..。.:*☆
Biasanya malam di Tumapel akan nampak indah dengan candra di atas kepala sementara tara berhamburan mengitarinya. Lengkap dengan hewan-hewan malam yang kian ramai mengisi heningnya suasana.
Namun, mereka bukan tengah berada di Tumapel. Mereka belum keluar sepenuhnya dari wilayah Panjalu. Agnibhaya mengatakan bahwa mereka tidak memungkinkan untuk menempuh jalan yang dilalui saat Rawina dari berangkat dari Tumapel, sebab mereka akan menempuh waktu terlalu lama karena medannya. Sementara ada cukup banyak pedati yang mereka bawa karena ada banyak hadiah yang ingin diberikan Raja Panjalu untuk Raja Tumapel. Tentu melalui Rawina.
"Kau lelah?" tanya Agnibhaya pada Rawina.
"Sedikit," Jawab gadis itu.
Sayangnya Rawina justru merasa kelelahan sendiri. Ia terlalu memaksakan dirinya untuk kembali ke Tumapel, sementara Kinanti telah memintanya untuk beristirahat di paviliunnya hingga esok hari.
"Kau terlalu memaksakan diri," decak Agnibhaya sedikit kesal. Namun tak ayal ia menghentikan rombongan mereka dan meminta untuk beristirahat hingga fajar. Rawina sempat menolak, namun wajah pucatnya tidak mampu membohongi Agnibhaya.
Mereka menepi pada sebuah ceruk di sisi tebing kapur. Menyalakan api unggun dan membiarkan semua beristirahat barang sejenak. Agnibhaya melirik pada Rawina yang nampak lemas di sisi seorang dayang dan mengeratkan selendang sutranya.
"Biar aku saja," pinta laki-laki itu kepada dayang tadi. Membenarkan posisi Rawina hingga bersandar pada bahunya. Bahkan seorang prajurit hendak mengingatkan sesuatu yang mungkin luput dari ingatan Agnibhaya. Namun pemuda itu sepenuhnya menyadari tindakannya.
Seorang pangeran dilarang memiliki hubungan dengan seorang dayang.
Coba diingat. Rawina bukan sepenuhnya sudra yang menjadi dayang. Ia hanya kehilangan statusnya dalam masyarakat dan mengabdikan dirinya pada kerajaan. Sementara ego Agnibhaya tetap berkata tegas, bahwa aturan-aturan semacam itu tidak akan mempengaruhinya.
Tidak ada hubungan apapun diantara mereka. Karena itu Agnibhaya tidak merasa apa yang dilakukannya salah. Kalaupun memang ada, apakah itu akan jadi masalah?
Jawabannya, Iya Agnibhaya. Masalah yang sangat besar.
Ia menghela menatap pada gadis di sampingnya, merasakan deru nafas tak beraturan Rawina dan suhu tubuh gadis itu yang menghangat. Gadis itu demam.
"Mengapa raden memperhatikan saya?" pertanyaan itu terlontar padanya, sangat pelan.
"Aku tidak ingin dibunuh maharaja Tumapel jika membiarkanmu kembali dengan keadaan seperti ini."
Rawina tertawa kecil dengan masih memejamkan matanya.
"Seorang tabib yang tidak bisa mengobati dirinya sendiri, sungguh lucu."