[Epilog]

373 33 13
                                        

Last one!Selamat membaca

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Last one!
Selamat membaca

☆*:.。..。.:*☆

Prajna Dewi-- disematkan nama itu oleh Rawina atas permintaan Permaisuri pada seorang putri yang terlahir dalam huru-hara. Permaisuri teringat akan Agnibhaya, lahir dalam gejolak peperangan, maka dinamailah Agnibhaya.

Sedang putrinya, ia ingin diberi nama oleh Rawina, dengan nama dan makna yang indah.

Prajna yang berarti bijaksana, berwawasan dan cerdas.

Sedang, Anusapati sejatinya telah menyiapkan nama andaikata yang terlahir adalah seorang putri. Paramita.

Dia yang lahir dalam perjuangan mencapai kebijaksanaan dan keadilan. Harapan yang dibawa semua orang adalah bahwa kelak ia akan akan menjadi Dewi yang benar-benar sempurna.

Maka nama bayi itu, Prajna Dewi, dengan nama kecil Paramita.

☆*:.。..。.:*☆

Kehilangan itu berat.

Anusapati kini merasakannya.

Tidak ia sangka, akan tiba masa dimana ia melarungkan abu yang tak halus itu ke lautan, diiringi kelopak-kelopak mawar dan cempaka, bergerak mengikuti arus ombak.

Istrinya menyerah pada takdir dan menyelamatkan putri mereka. Mungkin lelah merasakan kesakitan. Mungkin pula muak dengan segala yang terjadi disepanjang hidupnya. Mungkin... telah berpuas diri setelah tahu bahwa, perasaannya berbalas.

Sedang Agnibhaya berdiri di belakang tubuh perempuan yang menggendong bayi kecil. Manusia mungil itu terus menggeliat, mencari kenyamanan dan kehangatan di balik balutan kain selendang ibundanya. Agnibhaya tak berbicara, ia biarkan suasana khidmat ini menjadi teman mereka.

Ketika Anusapati kembali, pria itu tersenyum. Ia memerintahkan untuk kembali, angin tidak baik untuk putri kecilnya.

Ranggawuni, lebih dewasa dari yang semua orang duga. Sang pangeran mahkota lebih legowo menerima takdir dimana ibundanya harus pergi dan digantikan dengan kelahiran yang baru. Ia pun berjanji, bahwa-- ia disini, menjaga adiknya. Dewinya.

Pun semua orang, sedih atas kehilangan Panji Saprang dan Kinanti memang mereka rasakan. Tapi kali ini, semua orang mencoba untuk lebih bersuka cita demi bayi kecil tak berdosa ini. Mereka bukan merayakan kepergian Permaisuri-- hanya mencoba menerima takdir.

Karna hidup masih terus berjalan.

"Bagaimana aku harus memanggilmu?" tanya Ranggawuni saat mereka memasuki kereta kuda.

"Hamba hanya bawahan, Raden. Panggil hamba senyaman Raden."

"Bibi pengasuh?"

Rawina tersenyum.

Ranggawuni tersenyum juga. Ia menatap wajah adiknya yang tengah tertidur lelap. "Seperti melihat ibunda."

Rawina tersenyum lebih lebar. Tangannya ia buka, disambut oleh Ranggawuni. "Dan Raden seperti ayahanda. Tangguh, bijaksana. Persis seperti Ibu Suri Ken Dedes."

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang