Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat Membaca
☆*:.。..。.:*☆
Prama terlalu mengedepankan egonya hingga terkadang, ia tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Satu hal yang membuat Prama dipilih oleh Agnibhaya adalah sisi logisnya. Prama bisa memberi arahan, bantuan serta saran yang sangat membantu Agnibhaya dari masa ia remaja hingga kini ia berdiri sebagai raja. Prama juga tidak pernah pandang bulu siapapun yang mengancam keselamatan tuannya. Namun ada lagi-lagi, terkadang ego Prama yang terlampau tinggi membuat mereka kerap kali berselisih pendapat.
Termasuk tentang Rawina.
Sepanjang hidupnya, Prama mengeraskan hatinya agar tidak mudah terperdaya. Menjadi ksatria bukan langkah yang mudah. Ia harus kuat dari segala sisi. Lengah sejenak, mungkin ia bisa saja mati. Maka dari itu, Prama tidak mudah percaya dengan apa yang terjadi pada Rawina.
Sekalipun ia tahu jika masa lalu yang membuat Rawina bersikap sedemikian rupa, namun ada bahaya yang Prama baca. Ia tidak ingin salah langkah. Itu saja.
Di tengah jalan, Prama bertemu sosok Rudipta. Raut wajahnya tampak tak bersahabat, enggan menyapa, namun ia teringat akan perintah Agnibhaya. Ia pun berbalik dan menyusul langkah Rudipta.
"Sudah temukan petunjuk baru?"
"Tidak ada. Kacau!"
"Tentu saja tidak ada kalau kau hanya diam."
Rudipta mendengkus. Apa maksud laki-laki itu sebenarnya. Prama selalu menunjukkan sikap tidak bersahabatnya, tandanya mereka tidak wajib untuk saling bertukar sapa atau mengkoreksi yang masing-masing lakukan.
Perempuan itu enggan berlama-lama dengan Prama. Ia akan segera menyelesaikan tujuannya. Saat Rudipta kembali berjalan, Prama menarik tangannya. Membawanya berjalan keluar dari keraton melalui pintu belakang.
"Menjauhlah!"
"Tidak sebelum semua selesai!"
"Rudipta! Kau bukan hanya akan membunuh dirimu, tapi Rawina dan orang lain! Kau tahu itu!" Nada suara Prama meninggi. Ia juga ketakutan sekarang. Sekalipun ia tampak biasa saat mendebat Agnibhaya, tapi ia takut akan ada bahaya yang lebih besar lagi mengintai mereka. "Menjauhlah. Ada Panjalu, Wengker dan Hasin yang bisa jadi tempatmu pulang. Kau bisa kembali hidup sebagai Rawina. Biarkan dia lepas dari dendam itu."
"Kenapa semua hanya melihat Rawina?"
"Karena dia pemilik raga ini yang sesungguhnya. Aku tidak peduli alasan apapun yang membuatmu hidup. Tapi, kembalikan sesuatu yang bukan hakmu. Sadari itu!"
Sebelum meninggalkan Rudipta. Prama menatap perempuan itu sejenak. Rudipta sudah babak belur dan Prama tidak akan peduli tentang itu. Sekarang, Rudipta bukan lagi sekedar kepribadian yang membantu Rawina dalam masa sulitnya. Bukan lagi tameng untuk Rawina yang lemah. Tapi lambat laun akan berubah jadi jiwa yang jahat dan mampu membunuh Rawina yang sesungguhnya. Melakukan lebih banyak hal gila dan merusak segalanya. Bagi Prama, sejahat itu sosok Rudipta.