57 [Permainan Anusapati]

182 23 1
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Berdosa bgt aku buat kalian menunggu wkwk
satu chapter dulu ya

Selamat Membaca

☆*:.。..。.:*☆

1222.

Dalam mimpinya sekalipun tidak pernah Ki Angger bermimpi bahwa ilmunya akan membawa petaka--bukan hanya padanya, tetapi juga pada orang yang lebih banyak.

Pada mereka yang menjadi korban, Ki Angger sungguh memohon maaf dan kelancaran jalannya dalam mempertanggungjawabkannya kelak, andai kata ia harus menjemput kematiannya.

Pada mereka, keluarganya, para tabib yang setia akan ilmu pengetahuan. Ki Angger tidak tahu kata lain selain, penyesalan. Andai ia tahu, biarlah dirinya sendiri yang menanggung semuanya.

Dalam banyak kesempatan, Ki Angger mengatakan bahwa ini tidaklah adil. Ada peran kecemburuan disini. Dan itu dilakukan oleh Tohjaya.

Tapi, semenjak Kadiri kalah, kekuasaan ada di tangan Ken Arok. Ia bukan lagi memimpin satu wilayah yang dibangun oleh Tunggul Ametung dan diperluas olehnya, melainkan seluruh bekas kekeratonan Daha. Citra putranya harus terjaga. Apa kata orang jika selama perang berlangsung salah seorang putranya membuat kesalahan yang berakibat pada kematian banyak orang.

Siapapun yang bersalah, Ken Arok tegas tetap akan keputusannya.

"Ki mereka putraku, mereka calon penerus-penerusku!"

"Tapi jika itu kesalahan hamba, hukum saja hamba. Jangan keluarga hamba!"

Ketegangan terjadi antara Ken Arok dengan Ki Angger. Kala itu hanya ada mereka bersua saling mempertahankan sesuatu yang harus dipertahankan. Yang paling layak dari semua pilihan. Ki Angger pun tengah melindungi keluarganya. Masa depan putrinya dipertaruhkan. Tidak ada seorang ayah yang tega membiarkan putrinya terbunuh karena kesalahan yang tidak diperbuat.

"Anda boleh membela mereka dan semua orang bisa saja tak tahu duduk perkaranya. Tapi hamba takkan rela bila keluarga hamba harus dikorbankan begitu saja, sekalipun anda yang paling berkuasa."

Ken Arok mendesah berat. "Hukum tetaplah hukum, Ki. Anak cucumu juga harus menanggung akibat dari kelalaianmu."

"Kita putuskan ini sebagai tindak pengkhianatan pada kelompok prajurit Tumapel."

Ki Angger tidak terima. "Tidak bisa! Hamba hanya lalai dan bukan berkhianat, Yang Mulia!"

Berhadapan dengan Ken Arok, bukan satu atau dua kali Ki Angger lakukan. Ia melihat sendiri bagaimana mata teduh itu berubah menjadi dingin ketika berselimut amarah. "Memalsukan kematian, menguburkan mereka sebagai pahlawan yang gugur, nyatanya mereka tewas akibat menegak teh yang terbuat dari rempahmu."

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang