Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
18+ ⚠️TW!! (Darah, kekerasan, pembunuhan) yang gak suka bisa skip aja
Terima kasih dan selamat membaca
☆*:.。..。.:*☆
Rawina datang kembali pada Dewa yang memberinya kehidupan. Setiap kali, setiap saat. Selalu ada tanya yang ia utarakan.
Mengapa engkau membiarkan saya sendirian?
Begitu kembali, tidak ada jawaban apapun yang didapatnya. Rawina akan terus terjebak dalam tanyanya dan tak pernah menemukan jawabannya.
Malam-malamnya akan selalu dihantui mimpi buruk. Setiap malamnya ia tidak pernah bisa tertidur. Akan selalu terbayang ingatan dimana ia yang memeluk kepala ibunya dan menguburkannya seorang diri. Mata yang terpejam itu seolah enggan mengutuk siapapun yang menghakiminya. Seolah pasrah apabila Dewa menjemputnya dan membawanya ke nirwana. Seakan merelakan ketika orang-orang yang justru berbalik mengutuknya.
Sekelam itu masa lalunya. Tapi Ni Jenar menggagalkan apa yang sudah menjadi jalannya.
Selepas berjalan hingga fajar menyapa. Rawina tanpa sadar memasuki pasar yang baru ramai. Disambut oleh anak kecil penjual bunga yang menawarkannya seikat bunga soka. Teringat pula pada kali pertama seorang pangeran Tumapel memberinya seikat bunga yang sama.
"Bunga Soka," gumam Rawina.
"TOLONG! ADA KORBAN SERANGAN BANDIT!!" Entah darimana datang seorang pria yang berlari-lari mengitari pasar, sekaligus memberi sebuah berita menghebohkan. Membuat perhatian semua orang teralihkan padanya.
Semua orang berkerumun. Menatap iba pada seorang pria yang tertatih dengan darah mengucur di sebagian tubuhnya. Rawina mengernyit dan mendekat pada mereka. Lebih tepatnya pada pedagang dan seorang yang memapahnya. Tak jauh berbeda, luka di tubuhnya menjawab seberapa buruk kejadian yang menimpa keduanya.
"Selamatkan saya," lirih pria itu dengan lemah.
Tatapan Rawina bertemu dengan seseorang yang tengah memapahnya. "Selamatkan dia!" Sosok itu memberi titah secara tegas, tepat pada sosok Rawina.
Semua orang memandang pada Rawina. Seakan meminta hal yang sama. Tidak ada yang bersuara sebab mereka menunggu apa yang dikatakan Rawina. Walaupun tidak satupun dari mereka yakin apakah Rawina mampu. Tapi setidaknya seseorang dengan yang tengah memapah orang itu memberi perintah, artinya orang itu tahu jika Rawina adalah seorang tabib.
Gadis itu menghela nafas. "Maaf, sepertinya saya tidak bisa," sesalnya.
Mendengar keraguan itu, Agnibhaya menatap semua orang yang mulai membentuk kerumunan. "Baiklah. Aku butuh tabib lain yang mampu menyembuhkannya!" pinta Agnibhaya tidak lagi memandang Rawina.
Tapi tidak satupun di antara orang-orang itu yang merupakan seorang tabib. Rawina masih saja diam. Agnibhaya benar-benar tidak ingin membuang lebih banyak waktu untuk menunggu pertolongan dari Rawina.