Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat membaca
☆*:.。..。.:*☆
Terbanglah, kepakkan sayap itu, serta sampaikan pesanku-- pada perempuan yang telah memaku hatiku.
☆*:.。..。.:*☆
Dinginnya air malam itu tidak akan membuat tubuhnya menggigil. Tidak akan membuat kulitnya pucat membiru. Tidak akan membuat bibirnya bergetar. Rudipta memandang pada gelapnya malam yang berteman awan mendung.
Pesan Agnibhaya sampai padanya.
"Kunjungan pertama Panjalu pada keraton, ya?" lirihnya sendiri.
☆*:.。..。.:*☆
Terjangan jatuh pada wajah Agnibhaya saat laki-laki itu berani menginjakkan kaki di keraton. Di depan perbatasan, tempat diletakkannya dua Dwarapala raksasa. Mereka seolah mengabaikan dua penjaga Bhairawa itu.
"Kau-- membunuh Wregola, saudaramu sendiri!" Agnibhaya menerimanya.
"Hampir," koreksi Agnibhaya tak tahu malu. "Dia masih hidup."
"Bedebah!" Sudhatu sudah tidak bisa membendung amarahnya. Kesal menjadi satu. Ia ingin membunuh siapapun yang membuat Wregola berada pada titik terlemahnya. "Tunggu aku membawa kepalanya di hadapanmu, maka kau akan mati perlahan dan hancur lebur bersama mayatnya."
Agnibhaya tertawa, meski sudut bibirnya terasa kebas dan pukulan Sudhatu masih terasa menyakitkan. Tapi sebelum Sudhatu kembali menerjangnya dengan pukulan, Agnibhaya sudah membalasnya lebih kuat dan lebih menyakitkan.
"Sampaikan salamku pada bedebah sialan Tohjaya!" Satu pukulan lebih dari cukup karenanya bibir dan hidung sudhatu berdarah lebih banyak dari yang ia dapat sebelumnya.
Agnibhaya berjalan meninggalkan Tumapel. Ia akan kembali ke Panjalu.
☆*:.。..。.:*☆
1222
Anusapati bukanlah pemuda tangguh sebagaimana Mahisa atau Panji Saprang di setiap latihan yang dijadwalkan oleh Mpu Paran. Ia lebih senang pergi pada keguruan, bertemu para resi, mempelajari ilmu pengetahuan serta perpolitikan. Ia pun tidak mempermasalahkan keputusan Ken Arok satu tahun lalu saat akan menuju Ganter.
"Tidak ada tempat yang lebih pantas untukmu selain berada di bawah bimbingan Ki Angger," ucap Ken Arok kala itu.
Namun Tohjaya ditempatkan sebab-- ia tidak menonjol dibandingkan saudaranya yang lain. Tidak pandai namun juga tidak bodoh. Terlalu beresiko andai menempatkan Tohjaya di arena peperangan bersama Mahisa atau telik sandi bersama Panji Saprang.
Anusapati masih remaja dengan isi hati yang murni. Ia menghormati segala keputusan ayahandanya dan menjalankan setiap tugasnya dengan sangat baik.