52 [Racun Belati]

157 18 0
                                        

Haiiii semuaaaCeritanya bakal aku uploaad sampai setengah chap menuju endingsemoga suka ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Haiiii semuaaa
Ceritanya bakal aku uploaad sampai setengah chap menuju ending
semoga suka ya

Aku mencoba yang terbaik untuk menamatkan cerita ini :)
☆*:.。..。.:*

Ki Agrang sudah lama bekerja bersama keluarga Keraton. Dari dia yang hanya prajurit biasa, kemudian diangkat menjadi pemimpin pasukan saat perang, sampai dipercaya menjadi ajudan salah seorang pangeran, yang tidak ia duga berubah menjadi seorang Maharaja menggantikan posisi ayahnya. Ki Agrang tahu, isi dapur dari keraton yang diagungkan banyak orang ini.

Termasuk Pesanggrahan yang tidak seharusnya aktif, justru digunakan untuk kegiatan keji.

Pintu sebuah ruang terbuka, menampilkan seseorang yang berhasil membuat dua orang yang mengekori langkah Ki Agrang tegang, namun semakin memberikan tatapan tajam. Ki Agrang menunduk sejenak.

"Sampaikan," titahnya.

"Mahisa dan saudaranya memiliki niatan untuk menyerang pemerintahan Anusapati. Sementara Ken Umang telah memperingati Mahisa akan kemungkinan Tohjaya membalas penghinaan yang dilakukan Ken Dedes selama ini."

Orang itu memicing, menatap pada dua pengikut di belakang Ki Agrang. Selama ini, ajudan Maharaja itu memang selalu ditemani dua prajurit, namun kali ini berbeda.

"Siapa yang kau bawa?"

Ki Agrang menatap sejenak ke arah prajuritnya. "Prajurit kepercayaan saya. Mereka tidak akan membocorkan pembicaraan kita."

Lantas, orang tersebut tertawa. Suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan. Tidak mungkin Ki Agrang menganggapnya bodoh dan bisa menbodohinya. Seketika ia lempar belati melewati sisi wajah salah seorang prajurit itu hingga pelipisnya terluka. Belati itu menancap pada pintu kayu, sementara mereka yang menyaksikannya tengah menahan nafas.

"Kau pikir aku bodoh? tapi tenang, belati itu tidak beracun."

Mereka mengenali belati itu dan mereka tahu apa yang dia maksud dengan tidak ada racun di belatinya. Artinya, belati lain yang tersebar di luar sana-- beracun.

Diam-diam dua prajurit di belakang Ki Agrang mengepalkan tangan kuat-kuat, sampai, pertempuran pecah begitu titahnya berbicara diselingi oleh kemurkaan luar biasa.

"Pengkhianat!"

Ki Agrang takkan lagi mengelak. "Ya, hamba sudah menyiapkan diri untuk mati."

☆*:.。..。.:*☆

Prama tidak tahu bahwa mereka akan ketahuan secepat ini. Sementara Rudipta sudah tidak merasakan sakit akan luka di pipinya, karena sibuk menghalau setiap serangan para prajurit di pesanggrahan itu. Dari segi jumlah mereka kalah, tapi tidak dengan kemampuan bertarung dua ajudan dan seorang perempuan yang menyimpan dendam.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang