Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⚠️TW!! Mengandung adegan kekerasan Selamat Membaca!
☆*:.。..。.:*☆
Agnibhaya terbatuk saat seseorang melawannya dengan sebuah tendangan kuat di perutnya. Keningnya mengerut, matanya terpejam dan meringis kesakitan. Sialnya, rencana hari ini gagal.
Agnibhaya menggiring seluruh keluarga ke Hantang dengan memesan sebuah penginapan untuk membuat Pesanggrahan di Awaban kosong. Dugaannya adalah sebagian prajurit yang berjaga di Awaban akan pergi ke Hantang, sementara ia akan melihat bagaimana bentuk Pesanggrahan itu dan apa fungsinya.
Semula tidak ada yang salah saat ia mengendap masuk ke dalamnya. Menelisik satu persatu bangunan dengan benteng yang mengelilinginya itu. Seperti yang Prama katakan, bangunan ini mungkin memang difungsikan sebagai markas prajurit pada masa peperangan melawan Kadiri bertahun-tahun silam. Suasananya hening, hanya ada beberapa prajurit yang berjaga. Tapi Agnibhaya menemukan sebuah tempat rahasia yang tersembunyi di belakang. Karena bangunan itu berada di sisi sebuah tebing tinggi. Terdapat gua besar yang seperti difungsikan sebagai penjara.
Mulanya Agnibhaya tidak tertarik, sampai ia melihat dua prajurit penjaganya tertidur. Rasa penasarannya membawa mendekat dan bertemu dengan seseorang yang menutupi wajahnya dengan kain dan jubah. Agnibhaya pernah melihatnya saat di Tumapel dulu. Agnibhaya tidak bertanya meskipun keterkejutannya masih kentara, sebab menara yang ada di dua sudut benteng yang mengelilingi bangunan Pesanggrahan menyala.
Ada beberapa orang dengan pakaian serba hitam dan wajah tertutup sedang mengayunkan obor api sebagai tanda bahwa mereka melihat adanya penyusup.
Mereka bukan prajurit resmi. Sialnya, belum sempat Agnibhaya selesai menghitung jumlah mereka, dari angka yang ia gumam dalam hati justru bertambah berkali lipat untuk menyerang mereka berdua. Pertarungan pun tidak dapat terelakkan. Mereka hanya dua orang, sedangkan lawannya berjumlah belasan orang yang sudah bisa dipastikan, mereka adalah orang-orang terlatih.
Agnibhaya melihat sosok berjubah hitam itu tampak lincah melawan dengan mengayunkan obor yang ia rampas dari pintu goa. Tanpa ragu ia membakar pakaian prajurit bayaran itu, melawan hingga mereka tersungkur dan lari karena pakaian yang melekat di tubuh mereka terbakar.
Merasa ia sudah bisa berdiri. Agnibhaya melawan saat seseorang hendak menyerangnya. Ia merampas pedang dan menebas satu persatu orang yang berusaha membahayakan nyawa mereka berdua. Tanpa ampun, Agnibhaya tidak peduli jika peristiwa ini akan terdengar hingga ke Maharaja Anusapati yang saat ini berada tidak jauh dari Awaban, tepatnya di Hantang.
Selama identitas yang berusaha ia tutupi dengan penutup wajah tidak terbongkar malam itu.
Di tengah pertempurannya, Agnibhaya mendengar suara ringisan dari orang berjubah hitam akibat serangan pedang pada sikunya. Agnibhaya dengan cepat membalas serangan mereka, melindungi orang itu yang berusaha menahan pendarahan di sikunya.