29 [Cerita]

307 47 7
                                        

18+Mengandung Trigger Warning!!Chapter ini hampir full narasi, jadi bacanya pelan-pelan ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

18+
Mengandung Trigger Warning!!
Chapter ini hampir full narasi, jadi bacanya pelan-pelan ya

selamat membaca...
---

Menyebut sosok iblis tengah mendiami tubuh Rawina adalah hal paling sederhana untuk menjabarkan apa yang dikatakan oleh brahmana itu. Tidak terkecuali Ki Angger dan istrinya yang merasa Rudipta bukan putrinya, melainkan sosok yang mengusik hidup putrinya.

Rudipta selalu bisa menjadi Rawina tapi Rawina tidak pernah bisa menjadi sosok Rudipta. Seolah hanya Rudipta yang bisa mengetahui sisi Rawina, namun tidak dengan sebaliknya.

Agnibhaya pernah bertemu sosoknya. Saat di hutan, dengan segerombolan ajak-ajak. Rawina yang sebenarnya tidak akan pernah berani memegang belati dan melukai makhluk lainnya. Kemudian hari dimana Agnibhaya dan Panji Saprang tanpa sengaja menabrak seorang pelayan dengan darah di tangan. Itulah Rawina yang sedang bersembunyi dan Rudipta mengambil alih.

Rawina bercerita. Semasa kecilnya, ia tidak pernah bisa melawan ketika ada yang berusaha mengganggunya. Tetapi Rudipta bisa. Rawina yang penakut, berubah menjadi Rawina yang pemberani. Berani membalas anak-anak desa yang seringkali mengusiknya. Disaat Rawina ketakutan bila badai hujan datang, Rudipta selalu menyembunyikannya dan yang dilakukan Rudipta adalah mendengarkan petir berbunyi.

Rudipta adalah kebalikan dari Rawina.

Saat tragedi dimana seluruh keluarganya tertangkap dan mati dengan cara paling mengerikan. Rawina butuh Rudipta untuk menyembunyikan diri. Tapi nahas, Rudipta seolah pergi entah kemana.

Rudipta membiarkan Rawina menyaksikan bagaimana kepala mereka ditebas dengan pedang dalam sekali ayunan. Kepala terlepas dari badan dan sebagian mati dengan mata membelalak mengutuk. Mereka tidak bersalah tapi mereka harus mati dengan cara yang hina.

Tidak ada kain bermotif cantik dengan selendang yang selalu dikenakan Rawina. Tidak ada cempaka yang terpasang di gulungan rambutnya. Tidak ada anting-anting ataupun perhiasan melekat ditubuhnya. Semua harus dihilangkan dan wajah Rawina tertutup kotornya tanah. Pakaiannya hanya kain lusuh yang tidak bernilai.

Rawina bak gadis kecil sudra yang tidak memiliki apapun. Tidak ada yang mengenalinya sebagai putri Ki Angger. Berkat ibunya, Rawina tidak harus mati menenggak racun seperti kerabat seusianya.

Begitu satu persatu kepala dilempar ke jurang, terpisah dari tubuhnya. Rawina tidak kuasa mengangkat tubuh sang ibu sendirian. Dan yang bisa dikuburkan oleh Rawina dengan layak hanyalah kepala sang ibu dengan sisa darah masih keluar dari nadinya.

Berjalan di antara hutan sendirian, berharap tak ada satupun manusia yang mengenalinya. Rawina mendekati sebuah pohon tandus yang hampir mati. Menjadikannya sebagai tempat paling tepat untuk menguburkan kepala sang ibu. Hanya berbekal sebuah belati, batu dan ranting, Rawina menggali tanah. Rawina mengumpulkan bunga, menutupnya kembali. Walau ada rasa sakit ketika melihat wajah ibunya yang membiru dengan mata terpejam sempurna.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang