Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Apa kabar?? Maaf karena aku lama bgt hibernasinya. Baru selesai magang dan baru beres ujian. ASAP aku akan tamatin PARAMITA. Siapa aja kemarin yg penasaran minta dilanjut?! 🙌
Selamat Membaca ☆
*:.。..。.:*☆
Entah dariamana mulanya sepi dan hening itu berteman dengan malam. Saat manusia terlelap dalam mimpi, ada sekelompok manusia lain yang memilih untuk terjaga. Saat siang menjadi saat paling tepat menjalani aktivitas kehidupan, ada sekelompok lain yang menghindari pertemuan dengan manusia lain. Demi melancarkan tujuan, mereka rela menunggu hingga malam menyapa.
Di depan pesanggrahan yang selalu tertutup rapat, namun dengan setiap penerangannya yang selalu menyala dan terawat, Ki Agrang berdiri dengan ditemani dua prajurit lain. Ia menatap pada pintu kayu berukir, goresan yang nampak sekali ciri khas mendiang Maharaja, menandakan bahwa pesanggrahan ini dibangun olehnya. Perluasan dan pembenahan dilakukan atas perintahnya. Sampai bangunan itu benar-benar sempurna, tidak ada satupun keluarga keraton yang menginjakkan kembali kakinya ke dalam pesanggrahan itu. Kecuali atas perintah sang pemilik.
Andai, Maharaja terdahulu telah wafat dalam tikaman Ki Pengalasan, maka siapa yang memerintah untuk tetap menjaga pesanggrahan ini tetap hidup?
"Ki Agrang, dari Keraton Agung Tumapel." Ki Agrang menyebutkan namanya saat seorang pelayan tua membuka sedikit celah pintu kayu, satu-satunya jalan masuk menuju pesanggrahan. "Aku membawa perintah."
"Anda sudah ditunggu di dalam." Pria itu membuka lebih lebar pintunya untuk Ki Agrang bisa masuk dengan kudanya. Mata yang telah sedikit rabun itu memicing pada dua prajurit lain. Tanpa berani menginterupsi kedatangannya, pelayan tua itu tetap membiarkan mereka masuk, kemudian kembali menutup rapat gerbang utama yang selama ini membatasi pesanggrahan dengan dunia luar. Sebab, ketika gerbang itu tertutup, apapun yang terjadi di dalam pesanggrahan itu, dunia luar tidak akan mengetahuinya.
Dan, itulah mengapa tempat ini dulu dipilih oleh mendiang Maharaja sebagai tempat persinggahan sebelum peperangan melawan Kadiri pecah di Ganter.
☆*:.。..。.:*☆
Hal yang tidak pernah diduga oleh Mahisa adalah pesan yang dikirimkan oleh Ken Umang padanya. Pria itu tidak hentinya menggasak rambut yang tidak tertutup mahkota itu dan mendesah nafas pelan. Ia habiskan malam panjangnya dengan pikiran penuh, duduk di taman yang biasa menjadi tempat bersantai selirnya-- wanita yang dicintainya.
"Nara tertidur?" tanyanya berbisik saat Kinanti datang dan duduk di sampingnya. Mereka memandang pada kolam yang hanya disinari sedikit penerangan, serta beberapa air yang terus mengalir, mengisi keheningan.