49 [Kekecewaan]

194 23 0
                                        

Uluran tangan siapa yang takkan mungkin Rudipta abaikan, selain Agnibhaya?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Uluran tangan siapa yang takkan mungkin Rudipta abaikan, selain Agnibhaya?

Bahkan tangan itu pula yang mendorongnya menjauh, masuk ke dalam hutan lebat, menjauh dari Kutaraja dan pusat Tumapel. Demi tetap bertahan hidup. Di sela larinya, tidak pernah Rudipta setakut ini. Tidak pernah ia merasa setidak berguna ini. Kematian Ni Jenar adalah bukti bahwa, sosok Rudipta yang kuat pun tetap tidak bisa menghentikan kematian.

Pohon-pohon di sekelilingnya seakan tertawa. Mengejek Rudipta yang selalu sombong dan menggebu, padahal ia tak lebih dari seorang perempuan lemah, yang pada akhirnya tetap membutuhkan uluran tangan seorang pria.

Walau terseok, walau telapak kakinya terluka dan berdarah. Walau nafasnya tersengal dengan tangis tiada hentinya. Rudipta berlari, menuju-- Awaban. Tempat Prama sudah menunggunya.

Sementara Agnibhaya melawan puluhan prajurit bayaran. Sama seperti saat ia diserang di Awaban. Satu tebasan, satu nyawa melayang. Satu pukulan, saat itu juga Agnibhaya harus berbalik menyerang. Ia sendirian, sembari mencari tahu, mencari jejak, siapa dan atas dasar apa mereka dikirimkan? Agnibhaya tahu, tujuan mereka lebih dari sekedar teror dengan membakar gudang rempah Ni Jenar.

Malam itu menjadi kacau. Kediaman Ni Jenar yang luas terbakar habis, apinya dapat di lihat di seluruh penjuru Kutaraja. Semua orang berbondong-bondong memadamkannya. Sementara Agnibhaya justru memancing para prajurit bayaran itu ke arah kerumunan. Menyerang mereka dengan barang yang ada. Mengacaukan pasar malam yang sebelumnya meriah.

Serangan demi serangan berupaya Agnibhaya hindari. Ketika mereka juga mulai menyerang dengan banyak cara. Tubuh Agnibhaya yang gesit mulai melambat karena kehabisan tenaga. Beberapa kali pedang mereka menggores tubuhnya, sementara Agnibhaya terus menusuk dan membunuh mereka sebagai bentuk perlindungan. Jika ia lengah, nyawa yang akan menjadi taruhannya.

Di tengah perseteruan itu, saat Agnibhaya sudah jatuh terguling karena serangan bertubi. Entah darimana datangnya, sosok Anusapati menyerang, melindungi Agnibhaya dari serangan lain.

"Bangun!"

Meringis pelan, Agnibhaya meludahkan darah di mulutnya. Ia tidak berkata apapun, selain berdiri dan kembali membalas serangan orang-orang itu. Sebagian dari mereka telah di lumpuhkan. Beberapa prajurit datang dan menangkap mereka yang masih bernyawa untuk dibawa ke penjara.

Bantuan Anusapati cukup telat dan tidak akan membuat kegelisahan Agnibhaya berkurang. Kala ia berhasil menangkap seorang ketua dari para prajurit itu, Agnibhaya menyiksanya dengan cara yang paling menyakitkan. Di hadapan orang-orang yang menyaksikan pertarungan mereka dan Anusapati.

Agnibhaya berubah bengis tanpa diduga. Pedangnya menggores kulit luar leher orang itu secara perlahan. Lalu turun ke tulang selangka, bahu dan lengannya ia tusuk dalam hingga ujung pedangnya menembus menyentuh permukaan pohon. Memberi rasa sakit luar biasa pada penjahat itu.

"Siapa yang memerintah dirimu?" tanya Agnibhaya dengan mencabut pedangnya. Pria itu melolong kesakitan, ia ingin berteriak, namun pedang Agnibhaya masih terus bergerak, sekarang ada di bawah dagu sang penjahat.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang