Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat Membaca!! ☆*:.。..。.:*☆
Ni Jenar memicing dengan setengah wajah tertutup kain basah, pada gudang rempahnya yang terbakar oleh api besar. Teror pertama yang didapatkannya sepanjang ia berbisnis secara gelap, bak sebuah karma. Tapi, lain dengan pemikirannya. Ia hanya memandang pada pelayannya yang berlalu lalang berupaya memadamkan api. Sementara di depannya, punggung Rudipta masih sama, tak gentar sedikitpun.
Ni Jenar lebih dari tahu, jika ini bukan karena bisnisnya, melainkan karena ia melindungi seseorang yang seharusnya dieksekusi tiga belas tahun yang lalu. Tidak ada penyesalan, ia juga sama tidak pedulinya pada nyawa yang masih melekat dalam raganya ini.
Lantas, haruskah tiga belas tahun itu sia-sia bagi sosok gadis di hadapannya ini?
"Seret dan bawa Rudipta menjauh dari Tumapel," bisik Ni Jenar pada pengawal pribadinya. "Dia tidak boleh berada di Tumapel lagi."
Mereka tampak ragu, tapi Ni Jenar tidak main-main dengan perintahnya. Otoritas Ni Jenar di tempat itu masih sama. Paling besar dan kedudukannya paling tinggi. Perintahnya mutlak dan harus mereka laksanakan dengan segera.
"Ni! Apa maksudmu?!"
Ni Jenar mendekat pada Rudipta yang masih terkejut dan setengah meronta. Sebelumnya mereka tengah bertegur sapa, berbincang tentang terbongkarnya niat Rudipta pada Anusapati. Ni Jenar hampir marah, ia bahkan sudah mengacungkan jarinya untuk melaknat sikap gegabah Rudipta yang seketika membongkar rupa aslinya. Mungkin saja, sekarang semua itu menyeret mereka pada petaka yang satu persatu datang mendekat. Salah satunya, kebakaran ini.
Entah selanjutnya apa.
"Katakan jika Anusapati belum mengetahui nama aslimu," tegas Ni Jenar menatap manik Rudipta yang selalu berapi-api itu. "Katakan padaku Rudipta!"
Gadis itu terkesiap. Ni Jenar tidak pernah meninggikan nada suaranya di hadapannya ataupun pada Rawina. Namun, amarahnya bukan sekedar gertakan semata. Seorang penjahat kelas kakap juga tahu kapan dirinya akan berada dalam bahaya dan akan seperti apa ia meregang nyawa. Sekuat dan secerdik apapun strategi mereka, andai musuh berada tepat di belakang mereka, semua hanya kembali pada peruntungan. Akankah mereka bisa melangkah lebih cepat meninggalkan musuhnya atau justru mereka yang kalah cepat.
Ni Jenar memang seorang pendosa. Ni Jenar memang pembunuh tak berperasaan. Senang menipu dan memperdaya mangsanya. Menjadikan kediamannya sebagai neraka ataupun nirwana dalam satu waktu yang sama.
Tapi, Ni Jenar masih memiliki perasaan untuk tidak membiarkan jalan Rudipta terhambat dan berakhir sia-sia. Meski ia ingin menjauhkannya, menyelamatkannya.
"Dia tidak tahu-- mungkin saja begitu," lirih Rudipta.
Ni Jenar mengeluarkan belati yang tersembunyi di balik sanggul rambutnya. Ia berikan pada Rudipta dan dengan mata, ia berbicara. Bahwa belati itu jangan sampai terendus oleh siapapun. Ia tahu, Rudipta memegang belati yang sama.