Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semoga masih semangat menjalani hari seninnya, aku kasih asupan baru
Bakalan rame gak yaa??? Selamat membaca!
☆*:.。..。.:*☆
Kisah sebenarnya yang selama ini tertutup rapat adalah Ken Arok tewas terbunuh oleh putra angkatnya. Kemudian Ken Dedes yang merasa sang putra sulung lebih berhak atas tahta, membawa Anusapati untuk duduk di atas singgasana kerajaan yang megah. Lalu kelapangan dada Mahisa sebagai Mapatih i Hino akhirnya menunjukkan jalan bahwa takdirnya memang untuk memimpin Panjalu. Terakhir yang tidak pernah mereka duga yaitu bagimana Tumapel berbalik cukup jauh dari yang sudah direncanakan.
Tumapel dibagi menjadi dua kepemimpinan raja besar untuk menghindari perselisihan dari pewaris yang sudah ditentukan oleh mendiang maharaja. Di sisi timur seorang sinelir menduduki tahta tumpel yang beribukota Kutaraja dan tidak jauh di sisi barat seorang Rajasa memimpin di Panjalu yang beribukota Daha. Keputusan yang kemudian membawa perdebatan di keraton agung Tumapel. Bahkan bertahun-tahun setelahnya, apakah semua berhasil? apakah sudah berjalan seperti yang telah ibu suri Ken Dedes prediksikan? atau kali ini, sang Nareswari Agung salah dalam membuat keputusan.
Agnibhaya kembali mengingat bagaimana suara-suara yang menyerukan ketidakpuasan atas pemerintahan yang dilakukan oleh Sinelir di Tumapel. Kubu yang melawan semakin besar dan pelopornya adalah seorang Rajasa yang terlahir dari seorang selir, Yaitu Panji Tohjaya. Malam itu, sekembalinya ia ke rumah yang telah lama ia tinggalkan, para putra sang Rajasa melakukan sebuah rapat rahasia. Suasana berubah mencekam dan saling berdebat dengan Agnibhaya yang memiliki pemikirannya sendiri.
"Mana mungkin dia bisa disebut bijaksana! Hari-hari menyabung ayam, membelai paha pelayan dan mendamba wanita sesempurna kekasih dewa! Aku berani bertaruh! Putra Ken Dedes tahu rahasia yang tidak kita tahu, bukan?"
Pembicaraan di malam itu tidak mampu mengusik Agnibhaya sedikitpun. Saat mereka gemas dengan wujud pemerintahan Anusapati, tapi Agnibhaya tidak. Memang setiap raja akan memiliki kelemahannya. Tidak ada sosok maharaja yang sempurna! Bahkan seorang Ken Arok yang berhasil memperluas Tumapel dan membesarkan namanya, masih memiliki kelemahan yang disembunyikannya dengan sempurna. Kalau Anusapati menampakkan kelemahannya, bukan berarti dia tidak pantas sebagai maharaja. Tapi dia hanya tidak tahu cara menyembunyikannya.
Manusia hanya akan melihat satu kesalahan manusia lain dan menghapus seribu kebaikannya. Namun, Agnibhaya tidak tengah memihak seseorang.
"Katakan apa yang kau tahu wahai Agnibhaya!"
"Bukan hakku untuk berbicara buruk tentang kanda Anusapati," balas Agnibhaya tenang pada Tohjaya.
Tohjaya memicing lantas tertawa. Diselingi dengan derai tawa saudaranya yang lain. "Baiklah. Tapi kalaupun putra Ken Dedes yang harus berkuasa, kenapa bukan Mahisa?"