40 [Perasaan Rudipta]

191 27 0
                                        

Selamat hari jum'at sayangkuaku mau ajak kalian tau isi hatinya Rudipta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat hari jum'at sayangku
aku mau ajak kalian tau isi hatinya Rudipta

Selamat membaca
☆*:.。..。.:*☆

Seluruh hidupnya, selalu ada bagian yang rumpang dalam ingatan seorang Rawina. Terkadang ia mengingat seseorang tanpa mengingat rupa aslinya. Terkadang ia bisa bercerita, tapi ia tidak pernah menjadi bagian dalam ceritanya sendiri. Rawina seperti masuk ke dalam ruang dengan jendela luas, dimana ia melihat tubuhnya bergerak, namun bukan ia yang mengendalikan. Sesuatu yang janggal ini, sudah menjadi kesehariannya, hingga saat ini.

"Kau mengingatku?"

Rawina menggeleng. Bingung ketika pria tua itu mendekat dengan membawa secangkir minuman herbal. Tiba-tiba bertanya, tentang ingatan yang samar baginya, tapi mungkin jelas bagi Rudipta.

Nyatanya, sepanjang hidupnya selalu berdampingan dengan sosok Rudipta, tidak serta merta membuat Rawina merasa terbiasa akan kehadirannya. Rudpta terlalu misterius.

"Aku yang memberimu nama Rudipta." Pembicaraan mereka ada dalam pengawasan Agnibhaya. Dalam diam dan jarak-- dimana ia berdiri di dalam rumah, mengawasi dari balik jendela. Niat awal agar Brahmana itu tahu tentang cerita Rawina serta melihat sosoknya. Justru berakhir dengan pengenalan yang lebih dekat. Pertemuan setelah belasan tahun lamanya. Sang Brahmana lebih dari tahu bagaimana cara untuk menghadapi dua jiwa yang bertabrakan dalam satu raga itu.

"Jika rasa takut itu mulai menumpuk, mengacaukan Rawina dan bahkan Rudipta. Tidak menutup kemungkinan akan ada jiwa lain yang terlahir. Entah seperti apa wujudnya, mereka tengah menyerang satu sama lain dan memperebutkan raga manusianya."

"Andai itu orang lain, mereka pasti menganggap Rawina orang gila atau dirasuki roh." Agnibhaya menimpali.

"Semua bisa dijelaskan dengan akal sehat. Meskipun kita tidak tahu apa sebutannya yang pasti, Rawina harus lebih kuat dari jiwanya yang lain."

Agnibhaya kini hanya bisa memasrahkan semua pada pria tua itu. Apapun-- apapun setelah ini akan Agnibhaya terima.

Termasuk melepas Rawina, demi menuntaskan dendamnya tanpa campur tangan Agnibhaya.

☆*:.。..。.:*☆

"Saya ingin berbicara dengan Rudipta," pinta sang Brahmana.

Rawina menggeleng pelan. Bukan enggan, melainkan karena ia tidak tahu bagaimana caranya.

"Kalian pernah berkomunikasi sebelumnya?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Rawina. "Seperti apa?"

"Suara bisikan dalam kepala. Terkadang saat melihat pantulan saya dalam cermin dan genangan air."

"Kau bisa memanggilnya?"

"Andai saya tidak mau? Rudipta bisa besar kepala dan mengambil alih raga saya."

Pria tua itu mengangguk paham, tapi ia masih tidak ingin menyerah. Jika ingin membalaskan dendam dengan tuntas, maka si pemilik dendam yang harus menyelesaikannya. Jika masih ada jiwa yang saling bertabrakan, mereka justru akan semakin mencipta petaka baru. Dendam itu tidak akan benar-benar tuntas.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang