Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat Membaca!! ☆*:.。..。.:*☆
Aturan jika Raja baru mereka adalah seorang perebut dan pencuri, pasti rakyatnya akan lantang mencaci maki. Tapi, ada yang berbeda ketika Agnibhaya pelakunya. Mereka memilih untuk percaya, memasrahkan kehidupan mereka dalam genggaman sang pangeran. Sampai-sampai, mereka merayakan kemenangan yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Mana ada rakyat yang bahagia negaranya dijajah?
Normalnya mereka akan menangis dan meraung. Melawan kembali agar bisa memerdekakan diri.
Sayangnya, sebelum mereka melakukan itu. Kabar disebarkan melalui beberapa papan pengumuman desa seluruh kerajaan Hasin. Berita kematian keluarga Raja Hasin terdahulu dalam pengasingan dan penjara menjadi perbincangan hangat para warga. Harusnya, kematian itu akan ditangisi oleh rakyat yang mencintai pemimpinnya. Harusnya pula, berita ini tidak disiarkan, tapi berbicara tentang siasat, beginilah cara Agnibhaya.
Tidak menutupi penyebabnya, tidak mengubah alur ceritanya. Dijelaskan bahwa Raja Hasin terdahulu dan keluarganya akan diadili seadil-adilnya sebab kejahatan yang sudah mereka lakukan selama menjadi pemimpin Hasin. Baik pada rakyat maupun pada pejabat yang bersebrangan ideologi dengannya. Nahas, mereka tewas tanpa seorang pun tahu, ketika Agnibhaya masih bepergian ke Tumapel dan Panjalu untuk mengabarkan kemenangannya. Sebelum Agnibhaya benar-benar menentukan hukuman apa yang pantas untuk mereka.
Tubuh mereka sudah tergeletak tak bernyawa. Dibunuh dengan racun dan ditemukan dengan seluruh badan telah kaku membiru.
Mereka-- rakyat-rakyat kecil itu diam. Para prajurit yang memberikan kabar terkait ini juga angkat bicara.
"Raja Agnibhaya tidak meminta kalian percaya siapa pelaku pembunuhannya. Beliau hanya ingin kalian-- rakyat Hasin yang dipimpin Raja terdahulu tahu, bahwa pemimpin kalian telah berpulang ke swarga."
Begitulah, secara kompak mereka menutup pengumuman dan menjauhi kerumunan yang tercipta.
Satu hal yang mereka percaya. Raja kali ini tidak munafik. Ia akan melakukan yang menurutnya benar, tidak peduli akankah orang percaya dan setuju atau sebaliknya. Agnibhaya tidak akan mengacuhkannya. Sekarang, peduli mereka hanya pada satu hal, akankah Agnibhaya lebih baik? Atau justru sebaliknya.
Tapi...
Situasi berbeda di ruang kerja Agnibhaya, ditemani Prama, juru tulis kerajaan dan beberapa dayang yang berjaga di dekat pintu keluar. Agnibhaya hampir melempar seikat lontar yang isinya lebih dari lima puluh lembar ke arah nyala api. Tangannya tergerak untuk mengacak rambutnya sehingga penampilannya kian kacau. Sungguh, Agnibhaya sudah semacam orang yang kehilangan akal sehatnya, atau paling tidak sudah nampak seperti orang yang dimasuki roh jahat hingga gila.
Ada lingkaran hitam di bawah mata, sebagai tanda bahwa, tidur bukan lagi kawan baiknya.