Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sesuai janji kemarin, aku akan double update khusus hari ini... Selamat Membaca!!
☆*:.。..。.:*☆
Diatas pelana kuda, Agnibhaya mendekat pada batas daratan dan rawa yang seolah menjadi sekat antara pasukannya dengan pasukan Hasin. Masih miris dengan garda tengah yang diisi anak-anak dan remaja. Di samping kanannya, seorang prajurit meniup terompet yang memecah perang selanjutnya.
Sekali ayun, Agnibhaya membunuh musuhnya, melukai kuda tunggangan mereka dan membuat mereka berjatuhan ke dalam rawa. Disatu sisi, mereka saling berperang dan mengosongkan seisi kerajaan. Rawina justru pergi kesana untuk memperlancar strategi Agnibhaya.
Bersama dengan beberapa dayang, mereka menyaru dengan para rakyat Hasin dan menyebarkan berita tentang anak-anak yang berhasil lolos dan melarikan diri. Sampai, sasaran yang mereka tuju tepat, dimana ketika seorang ibu atau orang yang mengaku sebagai kerabat anak-anak itu histeris setelah rumor disebarkan. Rawina melempar pandang dengan dayang yang turut bersamanya.
"Dimana anak saya Nyisanak?" tanyanya dengan isak kencang. Hancur hatinya sebagai seorang ibu harus melepas anaknya yang masih belia untuk pergi berperang. Lebih hancur lagi saat tahu keadaannya yang selama ini disiksa untuk mengikuti standar para ksatria dewasa. "Siapapun itu, tolong sampaikan padanya untuk menjaga putra saya!"
Rawina mendekat dan bersimpuh di hadapan wanita itu. "Nyisanak, tidakkah anda ingin menemui putra anda dan memeluknya?"
Wanita itu menangis. "Saya tidak bisa meninggalkan desa ini, Nyisanak."
"Kenapa?" tanya Rawina heran.
"Mereka akan membunuh siapapun yang berani meninggalkan tanah Hasin."
Rawina tidak bisa menyembunyikan helaan nafasnya. Lebih dari sekedar perang yang ia bayangkan, Agnibhaya membuat segalanya semakin rumit. Tapi, ia pun tidak bisa menampik bahwa keputusan Agnibhaya memang lebih baik daripada mengorbankan seisi Hasin. Mengorbankan lebih banyak manusia, mungkin juga akan memupuk dendam lebih luas. Agnibhaya akan disebut sebagai tiran setelah berhasil menduduki tahta nantinya.
"Percayalah, dia bukanlah tiran yang akan menyakiti masyarakat Hasin selama mereka tidak bersalah," bisik Rawina. Netra wanita itu yang basah tampak semakin bergetar. Bibirnya kelu, wanita itu pun menunduk.
Dayang yang menyaru dalam kerumunan, mengangguk pada Rawina, lantas menangis. "Saya muak dengan perang ini! Sudah lebih tujuh sasi kita seperti ini. Tidak tahu apakah putra dan adik saya selamat di palagan sana!"
Suasana semakin dramatis. Para wanita itu mulai riuh dan menangis membayangkan nasib putra mereka yang kemungkin juga telah tewas di palagan.
"Nyisanak? Katakan dimana anak-anak itu diselamatkan!" Pinta seorang wanita tua.