lapangan sekolah.-

3.1K 323 46
                                        

Hari itu, hujan deras;

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Hari itu, hujan deras;

“Kak Jimin sama kak Yoongi berantem?” —— deheman terdengar sebagai balasan disusul geraman rendah Jungkook karena Taehyung berhasil mengambil alih bola di tangannya, lelaki itu buru-buru berlari gesit untuk menghindari Jungkook dan melompat cepat melemparkan bola ke atas ring. Tetapi, meleset. Nyaris saja masuk. Sorakan Jungkook terdengar bersahutan dengan dengusan kesal Taehyung. Lalu keduanya berlari cepat, berlomba-lomba untuk lebih dulu mengambil alih bola di bawah derasnya hujan di lapangan sekolah yang sudah sepi sebab jam pulang sekolah sudah berlangsung sejak dua jam yang lalu. “Kenapa?” Jungkook bergegas melempar bola ketika Taehyung hendak merebutnya, tetapi sayangnya lagi-lagi meleset, membuat Jungkook berdecak tidak percaya, padahal keduanya cukup berbakat dalam permainan bola basket. Barangkali, karena hujan menghalangi jarak pandang mereka.

“Gara-gara hujan” cibirnya kesal, bertepatan dengan itu, Taehyung justru berhasil mencetak skor. Lelaki itu menoleh ke arahnya dengan senyuman mengejek, satu sudut bibirnya terangkat, ia menatap sinis Jungkook yang balas mendelik kesal. “Lo curang” tuding Jungkook, ia tidak ingin mengakui kemenangan Taehyung dan langsung mengambil alih kendali permainan. Jiwa kompetitipnya merasa tertantang, ia tidak suka kalah, karena itu kini dia berusaha untuk menang, meskipun berakhir gagal lagi dan hal itu terus berulang sampai pada lemparan ketiga. Jungkook menyerah, fokusnya hilang, penglihatannya semakin memburam. Ia melirik ke arah Taehyung yang sedang mendudukkan diri di tengah-tengah lapangan.

“Jadi, gue yang menang?”

Jungkook mendengus keras seraya membuang mukanya ke lain arah, enggan menatap Taehyung yang memasang wajah pongah. “Ya” sahutnya singkat. “Kali ini aja gue akui lo menang, lain kali jangan harap” Taehyung terkekeh pelan, mengacak-acak rambut Jungkook yang sudah total basah. “Ih!” Jungkook berseru kesal, menepis kasar tangan Taehyung yang malah tertawa tanpa rasa bersalah.

“Jadi?”

“Apa?”

Jungkook berdecak, memukul bahu Taehyung beberapa kali sebagai pelampiasan kekesalannya sampai si empunya mengaduh kesakitan. “Kak Jimin sama kak Yoongi, berantem kenapa?”

“Jimin bilang, dia mulai muak karena kak Yoongi sibuk terus”

Kening Jungkook mengerut, ia memandang heran, sebab alasan itu terdengar tidak begitu menyakinkan. “Bukannya emang gitu kan? kak Yoongi emang selalu sibuk, terus kenapa?” tanyanya tidak mengerti. Seperti katanya tadi, Yoongi memang selalu sibuk dan Jimin biasanya memaklumi, sudah terlampau biasa tidak dikabari dan akhirnya harus ia yang datang menemui si kekasih. Jadi, seharusnya alasan kesibukan Yoongi tidak begitu berpengaruh pada hubungan mereka. Pun Jimin sebenarnya bukan tipe yang harus dikabari setiap saat. “Masa berantem cuman karena itu? Kayaknya nggak mungkin”

Taehyung mengangguk setuju, “Kemarin gue sama Jimin liat kak Yoongi jalan sama perempuan lain” Jungkook membulatkan matanya—— sejauh ia mengenal Yoongi, baik sebagai kakak kelasnya dulu atau sebagai kekasihnya Jimin, Jungkook tidak pernah melihatnya dekat dengan perempuan bahkan lelaki manapun. Yoongi cukup tertutup, terbilang dingin dan sering berbicara ketus, kebanyakan orang lebih memilih menghindarinya, ketimbang terlibat masalah dengannya. Meski ia beberapa kali sempat digosipkan dekat dengan beberapa orang, lelaki itu selalu menyanggah dengan tegas bahwa ia tidak memiliki hubungan dengan siapapun kecuali Jimin. Jadi, mendengar kalimat Taehyung tadi, Jungkook cukup merasa terkejut. “Nggak nyangka? Gue juga apalagi Jimin”

“Mungkin itu adeknya?”

“Kak Yoongi nggak punya adek”

“Kakaknya?”

“Kakaknya cowok”

“Terus cewek itu siapa dong?”

“Sepupu Jimin” Dan Jungkook nyaris tersedak oleh ludahnya sendiri, ia menoleh cepat ke arah Taehyung yang berucap santai. “Nggak usah di pikirin, ayo pulang” Taehyung berdiri lebih dulu, tangannya terulur di hadapan Jungkook untuk membantunya berdiri. Jungkook mendengus, menggapai lengan Taehyung dan malah menariknya hingga ia hampir terjatuh menimpa Jungkook. “Sialan” umpatnya kesal.

Jungkook tertawa riang, lari menghindar ketika Taehyung berusaha mengejarnya. Ia menjulurkan lidahnya untuk menggoda Taehyung yang masih berusaha menangkapnya, diam-diam senyuman Taehyung mengembang tipis—— jantungnya berdetak cepat dan itu terasa menyenangkan, sebab sumbernya adalah melihat Jungkook bahagia. “Kena” ditariknya Jungkook untuk mendekat, Taehyung memeluk erat pinggangnya agar si kekasih tidak kembali terlepas, sementara tawa Jungkook terdengar semakin keras menyamai suara hujan yang masih deras sore itu.

Jungkook membalikkan badannya menjadi berhadapan dengan Taehyung, tangannya melingkar di sekitar leher Taehyung. “Kak Yoongi nggak mungkin selingkuh kan?” tanyanya penasaran dengan jawaban Taehyung.

“Ngapain tanya?”

“Jawab aja”

Taehyung balas mengangkat bahunya, “nggak mungkin” katanya. “Tapi bisa jadi, iya” lanjutnya yang mana membuat Jungkook terdiam untuk sesaat, hingga dahinya di ketuk beberapa kali seperti pintu. “Jangan mikirin itu. Gue nggak suka lo mikirin yang lain. Cemburu” dan Jungkook merespon dengan berdecih, kendati begitu senyumannya mengembang begitu lebar disertai pipinya yang merona samar.

“Lo nggak mungkin begitu kan? Taehyung, kalo lo merasa bosen, bilang. Jangan ninggalin”

“Gue nggak punya alasan buat ninggalin lo, sekalipun lo yang nyuruh, gue nggak akan pergi, Jung” Perasan Jungkook menghangat, padahal sejujurnya kini tubuhnya sudah sedikit menggigil karena kedinginan. “Kalau pun gue harus pergi, alasannya bukan sesederhana bosan apalagi udah nggak cocok, tapi gue pastiin nggak akan ada alasan yang buat gue pergi dari lo”

“Kalo gue yang pergi?”

Taehyung tidak buru-buru menjawab, ia malah menatap Jungkook begitu dalam. “Lo bebas pergi kapanpun, Jungkook. Gue nggak akan nahan” bersamaan dengan itu Jungkook dapat merasakan pelukan Taehyung pada pinggangnya semakin mengerat. Suasana di sekitar mereka berubah menjadi sedikit menegangkan. “Dengan alasan apapun, kalau lo mau pergi, maka pergi aja. Gue nggak akan berusaha bikin lo tetap tinggal di sini, di sisi gue”

Jungkook menelan ludahnya susah payah, “kenapa?” tanyanya heran.

“Karena gue nggak mau bikin lo sakit” lirihnya, suara Taehyung hampir tidak terdengar. “kalau dengan ada di sisi gue bikin lo sakit, maka pergi aja. Nanti biar gue yang coba perbaiki biar lo nggak merasa sakit lagi, terus kejar lo lagi, nggak peduli sejauh apapun lo pergi, gue bakal kejar”

“Kalau gue tetep nggak mau balik ke lo lagi?”

“Tolong minta gue buat berhenti. Maka gue akan berhenti” perlahan-lahan air mata Jungkook turun melewati pipinya, menyatu dengan air hujan yang terus membasahi wajahnya. Jungkook dapat merasakan ketulusan lewat sorot mata Taehyung yang selalu berpendar tajam juga lewat suaranya yang terdengar sedikit bergetar—— Taehyung mencintainya teramat besar. Dan Jungkook merasa sedikit sesak ketika merasakannya. Apakah ia pantas dicintai sebegitu dalamnya?.- “Lo nggak perlu khawatir, gue mungkin akan berhenti, tapi kalo setelahnya lo berubah pikiran dan milih balik lagi ke gue, gue bakal tetap terima lo dengan sepenuh hati”

“Gue jahat kalo gitu, nggak adil, nanti lo yang sakit”

“Memang, biar gue aja yang sakit” Jungkook menggelengkan kepalanya tidak setuju. “kalau begitu, jangan pernah pergi” ujarnya, ada sedikit keraguan dalam nada suaranya, tetapi begitu Jungkook mengangguk beberapa kali sembari berujar pelan, Taehyung merasa sedikit lega.

“Semoga, gue nggak akan pernah nemu alasan buat pergi dari lo” —— Jungkook tidak bisa menjanjikan apapun, sama halnya dengan Taehyung. Keduanya hanya berharap Tuhan terus berbaik hati untuk mengijinkan mereka saling memiliki dalam jarak yang dekat di bumi ini. Sebab, mereka tidak yakin mampu  mencintai jika tidak bersama-sama.

_•_

Hehe

Pacaran √ tkCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang