.
.
.
.
"selesai."
Satu kata yang berasal dari mulut Alsia itu membuat Arsa mempercepat kegiatan bersih-bersihnya.
"Siapa yang bisa kita hubungi? Bukankah alat ini khusus untuk komunikasi kita berdua saja." Arsa berbicara sembari melepaskan masker kainnya.
"Kita akan langsung menghubungi menara sihir. Itu tempat dengan medan sihir paling tinggi di kerajaan."
Alsia bersandar pada kursi. "Sekarang tinggal pikirkan kesepakatan yang sekiranya sepadan."
"Memangnya mereka tidak mau membantu tanpa pamrih?"
"Aku sudah terlalu sering memeras mereka."
Alsia menghela nafas lelah. Siapa sangka sikap perhitungannya akan berdampak begitu besar di kemudian hari.
"Ada vampir yang datang." Arsa menatap ke arah pintu.
Sedangkan Alsia bergegas menyembunyikan alat komunikasi sihir yang telah diperbaikinya.
Vampir itu berdiri di depan pintu, mengetuk beberapa kali, menaruh nampan makanan yang ia bawa ke lantai lalu pergi tanpa sepatah kata pun.
"Membosankan. Pasti para pengirim makanan itu diperintahkan untuk tidak berbicara dengan kita," ucap Alsia.
"Sepertinya vampir yang dipanggil Noir itu tahu jika kakak pandai bersilat lidah." Arsa berjalan ke arah pintu untuk mengambil jatah makanan keduanya.
Itu buah-buahan hutan lagi.
"Kak, sepertinya kita sudah tiga hari di tempat ini. Di sini memang tidak ada penanda waktu tapi para vampir itu memberi makan kita tiga kali sehari."
Alsia mendengarkan sambil melihat sekeliling kamar. Tempat ini jadi lebih bersih dari pertama kali Alsia tiba.
"Arsa, pilih antara dua ini. Menghancurkan tempat ini beserta seisinya termasuk kita atau menghubungi menara sihir dengan kemungkinan kita akan mendapat kesepakatan yang berat sebelah."
Bahkan tanpa berpikir dua kali Arsa akan memilih pilihan teraman. Menghubungi menara sihir.
"Inilah alasan kenapa kau sulit bergaul, kak." Arsa berucap setelah melihat sang kakak menghela nafas panjang.
"Jika kakak berpikir telah berbuat jahat pada seseorang maka minta maaflah, bukan malah makin berbuat jahat."
"Iya-iya." Alsia mulai mengambil buah-buahan tadi.
"Kapan si pengirim makanan datang lagi?"
"8 jam lagi."
"Itu cukup," gumam Alsia.
Perempuan itu lalu menarik kain yang tadi menutupi alat komunikasi sihir. Alsia kemudian mencoba mengalirkan kekuatan sucinya pada alat itu.
Lempeng batu dengan sihir pengirim sinyal pun mulai bersinar. Tanda jika sinyal telah dikirim ke menara sihir.
Lima menit berlalu dan akhirnya lempeng batu dengan sihir penerima sinyal mulai bersinar, tanda jika menara sihir telah mengirim balasan.
[Si a pa i ni?]
"Alsia Acandra. Aku ingin meminta bantuan kalian."
[Ban tu an? Ha ha ha ha ker ja ba gus pe ni pu pe rem pu an ke jam i tu ti dak a kan ma u me min ta ban tu an-]
"Ini sungguh aku. Kita pertama kali melakukan transaksi bom kejut, transaksi kedua adalah alat komunikasi sihir, transaksi ketiga."
[Cu kup. A ku per ca ya. Ta pi, ban tu an da ri ka mi ti dak gra tis.]
KAMU SEDANG MEMBACA
Became The Side Character's Older Sister
Fantasi[Vote dulu sebelum membaca] [Dan kalo bisa jangan lupa follow] Karnika, salah satu fans dari antagonis sebuah novel. dia meninggal karna bom bunuh diri. bukannya pergi ke neraka atau surga karnika malah terlahir kembali di dalam novel favoritnya itu...
