65. Kastil Ruang Gelap

69 12 0
                                        

Alsia masih membaca satu persatu kalimat di bawah kakinya ini hingga sampailah ia pada kalimat yang membuatnya terkejut.

"Apa yang membuatmu terkejut begitu, Alsia?" Fino bertanya. Dia duduk di singgasana dengan tangan menopang dagu.

"Bukan apa-apa. Kalau boleh aku tanya siapa pemilik sejati kastil ini sekarang?"

Fino menampilkan senyuman misterius. "Siapa ya ..."

Alsia menghela nafas pelan melalui hidung. Dia tau jika memang Fino adalah pemilik resminya.

[Bacalah, kastil Ruang Gelap memperlihatkan nan mendengarkan segala sesuatu yang terjadi didalamnya pada sang pemilik resmi.]

Itulah kalimat yang membuat Alsia terkejut. Karena itu berarti Fino mengetahui pembicaraannya dengan Noir. Tentang Varen dan vampir percobaannya.

"Apa kau marah tentang hal itu?"

"Pertanyaan bodoh."

Jawaban dingin dari Fino berarti pertanyaan Alsia benar. Wanita itu marah.

"Lalu? Apa yang akan kau lakukan setelah perang?"

"Membersihkan semua sampai ke akar-akarnya."

Obrolan keduanya tidak dapat dimengerti oleh para Vampir Bintang Berdarah. Dan mereka juga terlalu takut untuk memotong pembicaraan penuh tanda tanya ini.

Arsa sendiri hanya memahami bagian awal pembicaraan. Sisanya dia sama tidak pahamnya dengan para vampir.

"Apa kau akan tetap menggunakan 'itu' untuk berperang?"

"Begitu mahluk menjijikkan itu muncul di depan mataku. Aku sendiri yang akan membasminya."

Fino menjawab dengan wajah serius. Dan mulai dari sini Noir mulai menangkap maksud obrolan keduanya.

"Bagaimana dengan bawahan barumu itu?"

"Dia sama tidak bergunanya dengan yang lama. Yah, meski selera masakannya patut diacungi jempol."

Alsia memasang senyum kecut saat mendengar tentang selera makan.

"Tapi, aku lebih penasaran. Mengapa kau bisa mengetahui semua itu?"

Perempuan bermarga Acandra itu berpikir sebentar. Dia ingin jujur pada Fino tapi mengatakan jika semua informasi yang ia dapatkan itu dari sebuah buku novel rasanya kurang menyakinkan.

"Aku mendapatkannya dari bisikan para peri," jawab Alsia dengan nada sedikit bercanda.

"Bukannya para peri itu pemilih?"

"Aku manusia langka," jawab Alsia cepat.

Fino terkekeh kecil. "Percaya diri sekali," gumam Fino.

"Omong-omong, apa kau mau aku mengartikan kata-kata di bawah ini?" Alsia bertanya sambil tersenyum licik.

"Boleh saja." Fino ikut tersenyum licik.

"kuperitahkan mengawasi kalian agar anak-cucumu dihukum oleh sang raja jika membangkang. Apabila ia tak tunduk pada sang pemilik kastil kutukan akan menghampirinya. Kutukan perusak, perbudakan serta penghancur yang sehancur-hancurnya.

Ketahuilah kehancuran pemilik kasti membawa kehancuran kastil Ruang Gelap. Terkutuklah mereka yang menentang pemilik kastil. Kastil ini hidup dan memberitahu segalanya pada pemilik resmi kastil.

Bacalah, kastil Ruang Gelap memperlihatkan nan mendengarkan segala sesuatu yang terjadi didalamnya pada sang pemilik resmi."

Alsia melirik ke arah para Vampir Bintang Berdarah. Seperti dugaannya, mereka terkejut ketika mendengar kalimat terakhir yang ia ucapkan.

Became The Side Character's Older SisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang