61. masa sebelum badai (4)

154 12 4
                                        

Malam ini cahaya bulan sabit berusaha untuk menyinari belahan bumi meski cahayanya tak seterang bulan purnama dan di malam ini, terlihat sekitar 7 vampir yang berdiri mengelilingi sekumpulan orang. Beberapa berada di dalam gang, beberapa di tempat tersembunyi dan sisanya berada di atap-atap rumah.

"kalian keras kepala." Salah satu vampir berjalan mendekati sekumpulan orang.

"Percuma saja memanggil bala bantuan. Manusia lemah seperti kalian tidak akan bisa membunuh vampir hebat seperti kami."

Vampir itu hendak menggigit leher orang terdepan namun suara benda jatuh menarik perhatiannya.

"Desa Satu Malam. Sebuah tempat yang terkenal dengan rumah-rumah hiburannya di wilayah selatan. Yah, rumah hiburan selalu menyimpan sesuatu."

Alsia yang berada di atap rumah bermonolog sambil memperhatikan orang-orang di bawahnya.

Vampir yang lain menatap ke arah kepulan asap tempat sesuai yang jatuh tadi. Itu adalah mayat rekannya yang perlahan berubah menjadi abu.

Teriakan yang berisikan kata-kata kasar pada Alsia pun terdengar. Sementara sang empu sendiri malah mengeratkan genggaman pada pedang panjang yang ia bawa.

Vampir memiliki kecepatan yang lebih besar dibandingkan kekuatan fisik. Menurut pendapat Alsia sendiri, mahluk yang cepat rata-rata lebih suka melakukan serangan dadakan. Entah dari depan atau belakang.

Seperti yang telah Alsia duga, vampir lain yang berada diatap melakukan serangan pertama padanya. Serangan dari belakang yang mengincar lehernya. Alsia menghindar dengan berjongkok kemudian menebas di bagian bawah dagu membuat vampir itu memperlihatkan urat dan otot wajahnya.

"Ah, salah potong," pikir Alsia kemudian melakukan tebasan lain.

Satu vampir telah tumbang dan 3 vampir lain datang untuk membunuh Alsia.

Alsia melompat ke bawah bangunan. Ketika masih berada di udara Alsia melepaskan jubah hitam yang menutupi tubuhnya membuat dirinya memiliki waktu untuk bernafas. Tepat saat kakinya menyentuh tanah Alsia kembali melompat kecil dan menusuk leher satu vampir yang berada tepat diatasnya.

Perempuan itu melemparkan badan vampir yang mulai berubah menjadi debu ke salah satu vampir lain kemudian melesat menuju vampir yang hendak menyerangnya.

Crat!

Serangan Alsia berhasil ditahan oleh vampir itu dengan mengorbankan kedua tangannya. Mengetahui jika jaraknya dengan vampir itu tidak terlalu jauh Alsia kemudian melakukan serangan mematikan. Tendangan lutut tepat pada area selangkangan lalu disusul dengan tebasan leher.

"Itu membuatku ngilu," pikir salah satu dari sekelompok orang yang menjadi tawanan para vampir tadi.

"Sial!" Satu vampir yang tersisa berteriak.

Alsia tidak terlalu memikirkan vampir yang satu itu, perhatiannya tertuju pada dua vampir terakhir yang berdiri dia dari jauh.

"Dua vampir itu kuat. Harusnya begitu melompat aku langsung melesat ke arah mereka," pikir Alsia.

"Hei," Alsia berbicara pada sekelompok orang di belakangnya, "dalam hitungan ketiga, jika kalian masih jadi beban aku akan tidak akan menolong kalian lagi."

"Eh?"

Alsia melesat menuju dua vampir yang berdiri agak jauh, mengabaikan satu vampir yang hendak mengejarnya.

Karena dia vampir itu berdiri sejajar Alsia langsung melakukan tebasan pada area kaki. Vampir pertama melompat mundur dan yang satunya malah menyerang Alsia balik menggunakan tinju.

Became The Side Character's Older SisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang