Setelah berdiskusi cukup lama akhirnya beberapa rencana untuk berperang pun siap. Alsia juga memperlihatkan sebuah granat kejut yang seharusnya sulit dibuat di kerajaan Zamri.
"Benda ini akan meledak dan mengeluarkan cahaya terang yang membutakan selama tiga detik. Kalian tidak bisa melihat apa-apa selama 10 detik jika melihat ledakannya secara langsung."
Seperti yang Alsia duga, ada beberapa orang di sana yang tidak mempercayai ucapannya.
Tanpa basa-basi Alsia menarik pelatuk pada granat kejut itu dan melemparkannya ke atas. Suara ledakan yang kecil terdengar beserta cahaya putih menyilaukan yang bisa dilihat dari luar kediaman.
Detik berikutnya orang-orang mulai berteriak karena kebutaan singkat.
"Jangan khawatir, sebentar lagi efeknya akan hilang," ujar Alsia santai.
Matanya masih fokus menatap granat kejut lain yang berada di tangannya. Jujur, dia sendiri cukup kagum karena bisa membuat benda seperti ini.
"Bagaimana caramu membuat benda seperti itu, Alsia?" Mikael bertanya. Dia orang pertama yang paling cepat pulih.
Alsia tersenyum kecil. "Aku punya 200 yang seperti ini di kamarku."
Mengetahui jika sang putri tidak mau menjawab pertanyaan Mikael hanya bisa menghela nafas.
"Yah, itu cukup melemahkan para vampir."
#
#
#
Hari berikutnya, di pagi hari. Alsia yang tengah memakan buah-buahan dikejutkan dengan dobrakan pintu kamarnya.
"Kakak, kau harus melihat ini."
Arsa datang dengan kepanikan di wajahnya.
Tepat di depan gerbang kediaman Acandra muncul sebuah kotak misterius. Para penjaga yang berpatroli mengaku hanya melihat sekilas sosok yang menaruh kotak itu.
Sosok tinggi dengan rambut pirang datang di tengah malam dan menaruh sebuah kotak bernoda darah. Dia tas kotak itu terdapat ukuran yang bertuliskan.
[Untuk Nona Alsia dengan selera uniknya.]
Ketika dibuka isi kotak itu adalah sekumpulan tali dengan simpul mati yang penuh darah dan hal itu membuat Alsia makin yakin jika Varen merupakan bawahan baru Fino.
Tali merupakan salah satu kode yang Varen buat di kehidupan sebelumnya untuk para korbannya. Tali bersimpul mati, kode jika Varen akan membunuh Alsia ketika perang berlangsung.
Denyut jantung Alsia menjadi kencang. Oh, ini sensasi yang begitu ia sukai. Sensasi saat kematian seolah-olah berada satu langkah didepannya.
Alsia menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menyembunyikan senyuman yang terpampang di bibirnya. Sayangnya hal itu disadari oleh Arsa.
"Kebiasaan itu lagi," pikir Arsa sambil memandang sang kakak dengan tatapan lelah.
"Bakar kotak itu dan tingkatkan kewaspadaan kalian di saat cahaya matahari belum muncul," ucap Alsia.
"Baik!"
Setelahnya Alsia tidak kembali ke kamar namun menuju ruang senjata. Arsa mengikuti di belakang.
Alsia yang mulai merasa risih pun angkat suara.
"Arsa, aku tahu kau mau mengawasiku. Bisa tolong lakukan hal itu dengan lebih baik? Minimal jangan mengawasiku secara terang-terangan."
Sudut bibir Arsa naik perlahan. "Tidak mau. Kakak sudah terlalu sering merepotkan diriku."
"Tidak bisakah kau abaikan saja diriku ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Became The Side Character's Older Sister
Fantasy[Vote dulu sebelum membaca] [Dan kalo bisa jangan lupa follow] Karnika, salah satu fans dari antagonis sebuah novel. dia meninggal karna bom bunuh diri. bukannya pergi ke neraka atau surga karnika malah terlahir kembali di dalam novel favoritnya itu...
