62. Tahanan

124 15 3
                                        

"kamu manusia yang sangat gigih."

"Terima kasih atas pujiannya," balas Arsa lalu melayangkan tebasan untuk memotong tubuh vampir itu.

Hembusan angin kencang kembali bertiup. Tudung yang menutupi rambut sang vampir terbuka, memperlihatkan rambut merah gelapnya.

Arsa kembali mengeratkan genggamannya pada gagang pedang. Keduanya bertatap dengan sorot mata yang sama-sama tajam.

Detik berikutnya mereka kembali melesat. Vampir itu hendak menusuk Arsa menggunakan kelima kuku tajamnya. Saat Arsa hendak memotong tangan sang vampir bunyi tabrakan besi pun terdengar.

Vampir itu rupanya mengenakan zirah tipis pada kedua lengannya membuat Arsa sulit memotong lengannya. Kini vampir itu hendak melakukan serangan yang sama dengan tangan satunya. Arsa yang belum sempat mempersiapkan kuda-kuda lain pun mendekati wajah sang vampir untuk memberikan sundulan kelas.

"Ugh!"

Darah segar keluar dari hidung vampir itu. Arsa langsung melakukan tendangan cepat dan kuat pada perut vampir itu, membuat yang diserang terdorong mundur beberapa langkah.

Vampir itu melirik sekilas ke jalan kecil di samping bangunan kemudian menatap ke arah Arsa.

Detik berikutnya kedua mata merah vampir itu mengeluarkan darah. Arsa mempersiapkan kuda-kuda serangan dan tiba-tiba semua menjadi gelap di mata Arsa.

"Ini, ilusi," pikir Arsa.

Tang!

"Ugh." Serangan tiba-tiba dari sang vampir serta hilangnya fungsi matanya membuat Arsa kesulitan.

"Jika sudah begini aku hanya bisa mengandalkan telinga dan refleksku," batin Arsa.

Pemuda itu pun menutup matanya dan menajamkan pendengarannya. Suara pertama yang ia dapatkan adalah hembusan angin, kemudian suara langkah kaki pelan yang mendekati dirinya.

Tang!

Pedang Arsa kembali beradu dengan pukulan sang vampir.

Crat!

Untuk serangan kedua dari si vampir tidak bisa Arsa hindar dengan sempurna. Akibatnya bahu kirinya mengalami luka dan pendarahan yang cukup parah.

"Gawat!"

"Tamat riwayatmu, manusia."

Suara dingin sang vampir bisa terdengar jelas oleh Arsa. Akan tetapi detik berikutnya Arsa tidak bisa merasakan keberadaan sang vampir yang tadi berada dihadapannya.

Dalam kegelapan yang menyebalkan Arsa beberapa kali mendengar suara besi beradu serta rintihan kesakitan dari si vampir. Arsa juga mendengar langkah kaki seseorang yang familiar di telinganya.

"Matamu kenapa?"

Senyuman tipis muncul di bibir Arsa ketika mendengar suara sang kakak yang jelas dipenuhi amarah.

"Berhati-hatilah, kak, vampir itu bisa membuat ilusi yang membutakan."

"Aku tidak tahu apa yang kau katakan, Arsa. Sepertinya vampir itu bisa menghilangkan fungsi indra tertentu."

Arsa berpikir sebentar, pendapat sang kakak terdengar masuk akal. Kedua kakak beradik ini berada dalam posisi yang kurang menguntungkan.

"Kemenangan kita saat ini bergantung pada kerja sama kita, Arsa."

"Ugh." Arsa sedikit meringis begitu sensasi dingin tiba-tiba bersentuhan pada area lukanya. Dari baunya pemuda itu mengetahui jika sang kakak memberikannya semacam ramuan agar pendarahannya berhenti.

Became The Side Character's Older SisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang