63. tahanan (2)

101 14 2
                                        

Ruangan tempat Alsia dan Arsa dipindahkan memang lebih baik dari penjara bawah tanah sebelumnya. Jauh lebih baik malah. Noir tidak memindahkan mereka ke ruangan yang lebih layak, dia memindahkan si kembar ke kamar tamu.

Tempatnya mirip seperti kamar-kamar bangsawan pada umumnya. Yang membedakan hanya soal penerangan. Kamar ini masih sama gelapnya dengan penjara tadi.

Alsia menaruh Arsa ke sofa panjang dan mulai membersihkan luka sang adik dengan barang seadanya.

"Kau dan para Vampir Bintang Berdarah lain sudah menghancurkan harga diri kalian sendiri."

"Maaf?" Noir memang mendengar ucapan Alsia dengan jelas, hanya saja dia merasa jika Alsia salah bicara.

Lagi pula, manusia mana yang mengerti soal harga diri vampir.

Perempuan bermarga Acandra itu dufuk di sofa tunggal di dekat sang adik.

"Kau menghormati Fino bukan? Tindakanmu yang mengijinkan Varen membuat mahluk percobaan telah menghancurkan harga dirimu sebagai vampir." Alsia menjelaskan kembali maksud ucapannya.

"Melihat Fino yang masih diam saja, sepertinya kalian sengaja untuk tidak memberitahu serta menutupi vampir percobaan Varen."

Alis Noir sedikit berkedut, tanda jika ucapan Alsia benar.

"Tidak apa meski beliau marah. Lagi pula, para vampir yang dijadikan percobaan oleh Varen adalah vampir rendahan yang diciptakan oleh para Bintang Berdarah. Mereka tidak akan menghalangi Tuan Fino."

"Iya untuk sekarang," tambah Alsia.

Mata birunya melirik ke arah sang adik. "Cepat atau lambat para vampir percobaan tidak akan mendengarkan perintah kalian. Mereka akan kehilangan akal sehat dan dengan kekuatan yang semakin hebat itu dia akan menggigit Tuan kalian."

"Dari mana anda mengetahui hal itu?"

Alsia menatap ke mata vampir itu lalu berbicara menggunakan bahasa kuno. "Hanya seorang hamba, tidak akan pernah bisa sebanding dengan Sang pencipta."

"Biar kuberitahu sesuatu yang menarik." Alsia menyuguhkan senyuman liciknya.

"Varen dulunya manusia."

"Hah?"

"Sekarang dia mungkin tidak akan mengkhianati Fino tapi, begitu penelitiannya selesai pria itu akan pergi."

Keadaan pun menjadi hening. Meski dilanda keterkejutan yang mendadak, Noir masih mencoba untuk berpikir dingin. Dia tidak bisa percaya seorang manusia begitu saja.

Noir, pria berambut merah itu kembali mengingat kesan Fino terhadap Alsia.

"Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun aku tertarik pada salah satu Acandra, Noir. Dia perempuan yang sedikit mirip denganku. Jika kau bertemu dengannya jangan bunuh dia, bawa saja padaku."

Mendengar itu Noir jadi sedikit penasaran tentang manusia yang dibicarakan oleh Tuannya. Belum lagi, Fino mengatakan hal ini sambil tersenyum tipis.

"Lebih baik aku diskusikan ini dengan Bintang Berdarah yang lain," batin Noir.

Pria itu berjalan meninggalkan Alsia dan Arsa sendiri tanpa penjaga. Tempat Alsia dan Arsa terkurung dapat ini merupakan salah satu markas tersembunyi para vampir.

.
.
.

Beberapa jam setelahnya.

"Dasar vampir minin pengetahuan, dia pikir manusia cukup makan buah-buahan saja," gerutu Alsia.

Pasalnya sejak dia terbangun makanan yang disediakan hanyalah buah-buahan. Beberapa bahkan ada yang termasuk buah beracun.

"Bersyukurlah. Ini lebih baik daripada mereka memberi kita darah."

Became The Side Character's Older SisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang