66. Kastil Ruang Gelap 2

51 9 7
                                        

Alsia dan Arsa kembali ditempatkan di sebuah kamar terpisah sesuai perintah Fino. Dalam perjalanan Alsia mulai memikirkan maksud ucapan Fino melalui telepati tadi.

'Yah, aku juga penasaran sampai kapan mereka akan terus dibodohi oleh stigma bawahan Raja Vampir itu.'

"Kalau begitu para Vampir Bintang Berdarah ini mirip ksatria penjaga keluarga kerajaan," pikir Alsia.

Senyuman tipis terbentuk di wajahnya. "Begitu Yoriez menepati janjinya. Maka melakukan kudeta akan jadi lebih mudah mengingat Fino memiliki banyak informasi berharga."

Alsia kembali teringat akan kesepakatannya dengan menara sihir. Dia bisa menebak apa yang mereka hendak lakukan padanya.

"Membunuhku atau menghilangkanku itu pilihan buruk, jadi kemungkinan besar mereka akan memberiku sihir. Sihir yang membuat mentalku rusak atau semacamnya."

Tebakan Alsia itu berasal dari pengalaman masa lalunya. Beberapa penjahat sering memberikan trauma mendalam agar para korban tutup mulut.

Ini merepotkan. Pikir Alsia. Dia tidak punya kenalan penyihir hebat yang bisa memberikannya sihir perlindungan. Alsia juga tidak bisa melanggar kesepakatan karena dia tidak punya cukup waktu serta kekuatan melawan menara sihir.

Bagaimana jika mengajak mereka bekerja sama? Itu juga sulit karena sebagian besar penyihir, terutama kepala menara sihir memiliki gangguan God Complex.

"Tunggu dulu," Alsia menatap pernak-pernik di gelangnya, "bagaimana jika aku menggunakan permata langit?"

"Tapi, kira-kira kekuatan permata langit bisa dihentikan oleh sihir atau tidak ya? Aku harus bertanya pada ayah nanti."

Pyar!

Sebuah panah berapi memecahkan kaca jendela di kamar Alsia. Detik berikutnya Alsia mendengar suara pecahan kaca dari ruangan lain. Alsia berlari menuju jendela untuk melihat keadaan.

Puluhan, tidak, ratusan panah api tiba-tiba melesat dari langit hitam.

Gemerlap cahaya panah api seakan-akan menjadi bintang jatuh yang menyinari kastil. Berkat serangan dadakan ini Alsia bisa melihat sebagian penampakan kastil Ruang Gelap.

Tanpa sadar Alsia tersenyum. Perempuan itu bahkan tetap diam memandang keluar jendela meski sebuah anak panah hampir menusuk bahunya.

"Sudah dimulai."

Alsia melirik ke bawah. Ia mengeluarkan belatinya lalu melompat keluar jendela.

Krak!

Ujung belati itu menancap pada dinding. Perlahan Alsia berjalan menuju kamar sebelah tempat sang adik berada. Ia bisa saja pergi melalui lorong tapi itu merupakan pilihan buruk.

Selama hujan panah api ini berlangsung Alsia tidak melihat adanya vampir yang keluar. Itu berarti mereka masih fokus berlindung di dalam.

Alsia masuk melalui jendela kamar Arsa yang telah pecah.

Belum sempat mengatakan apapun Alsia mendadak ditarik oleh sang adik, menjauh dari jendela.

Tak!

Sebuah anak panah berapi melesat masuk ke dalam kamar. Jika Arsa telat sedetik menarik sang kakak jelas akan ada seseorang yang berteriak karena panah api tersebut.

"Terima kasih," ucap Alsia.

Perempuan itu berdiri dan mendekati anak panah yang masih mengeluarkan api. Ia memperhatikan ciri khas yang terdapat pada panah itu.

"Ini milik pasukan pemburu vampir," gumam Alsia.

Kastil Ruang Gelap tempat persembunyian vampir yang tidak pernah ditemukan, kemunculan pertama Fino di dekat Jurang Kurcaci, panah api yang melesat dari atas. Dengan tiga fakta itu Alsia langsung tahu di mana ia berada sekarang.

Became The Side Character's Older SisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang