67. Kastil Ruang Gelap 3

41 11 2
                                        

Author ultah bulan ini (cuma ngasih tahu doang)

###

Vampir memiliki stamina dan kecepatan yang melebihi manusia biasa tapi tidak dengan kekuatan fisik. Mikael mengetahuinya dengan sangat jelas maka dari itu cukup mudah baginya untuk mengulur waktu.

Tang!

Suara besi beradu kembali terdengar.

Mata merah Noir bertatapan dengan mata biru cerah Mikael. Mata yang serupa dengan milik Alsia.

"Kau dan para Vampir Bintang Berdarah lain sudah menghancurkan harga diri kalian sendiri."

Kata-kata Alsia terlintas dalam benak Noir. Vampir itu mengerutkan kening lalu menjaga jarak dari Mikael.

Melihat sorot mata sang lawan yang berubah Mikael mulai memperbaiki kuda-kuda serangannya. Pertarungan akan sedikit berubah. Mikael melirik ke arah Raden yang masih melacak keberadaan Fino.

"Pria ini kuat, reflek dan kecepatannya juga luar biasa," Noir mulai menganalisis lawannya, "kalau begitu indra pendengaranlah yang harus diambil darinya."

Noir melesat dan melakukan tendangan pada kepala Mikael. Mikael berubah pikiran saat hendak menahan serangan dari Noir itu.

Kenapa vampir yang hanya mengandalkan kecepatan melakukan tendangan yang jelas bisa ia tahan?

Meski sedikit ragu dengan pikirannya Mikael tetap melompat mundur dan menjaga jarak. Ada sedikit perubahan para raut wajah Noir dan itu terdeteksi oleh Mikael.

"Tuan Count, saya sudah menemukan tempat Fino berada tetapi tidak dengan Tuan dan Nona Muda," ujar Raden sambil membuka tudungnya.

"Pergilah," titah Mikael.

Raden mengangguk kecil kemudian melubangi dinding lorong. Melihat itu Noir langsung mengejar si manusia serigala.

Mikael tak tinggal diam dia menandai Noir dan seketika vampir itu menghilang dari tempatnya tanpa jejak.

"Ugh," Mikael meringis pelan saat vampir Bintang Berdarah itu memberontak dalam alam bawah sadar Mikael.

"Yah, meski kepalaku jadi makin berisik cara ini tetap bisa menghemat waktu."

#
#
#

Kembali pada Arsa dan Alsia yang masih terus mencoba mengelilingi lantai satu kastil.

"Kak, Fino tidak ada di lantai satu. Lebih baik kita periksa dari lantai paling atas," usul Arsa.

"Kau mau mati dari tempat tinggi? Fino bisa memanipulasi kastil ini sesuka hatinya."

"Bagaimana jika kita membuatnya marah?"

"Ide bagus." Alsia menyetujuinya.

"HEI FINO! PERLIHATKAN DIRIMU SEKARANG JUGA DASAR KAU MAHLUK IMUT, LUCU. PENGHISAP DARAH YANG HOBINYA TIDUR DAN BERMALAS-MALASAN DALAM PETI MATI SEPERTI MAYAT!!"

Alsia berteriak lantang. Arsa yang sedang menghalau para vampir rendahan memasang wajah heran.

"Aku rasa imut dan lucu bukan kata yang cocok untuk Fino."

"Kita kan ingin membuatnya marah," balas Alsia.

Seluruh bangunan utama kastil bergetar hebat. Retakan demi retakan mulai memenuhi dinding kastil dan entah bagaimana muncul sebuah tangga yang terbuat dari dinding-dinding kastil.

"Wah, kita diberi jalan pintas yang jelek," komen Alsia.

"Bisa jadi ini jebakan bukan?" Tanya Arsa.

"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya," Alsia memandang tangga itu dengan seksama, "HEI! FINO KAU TIDAK MENJEBAK KAMI KAN??" 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Became The Side Character's Older SisterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang