Haiiiii
-HAPPY READING-
"Ren" Panggil Rayyan.
"Gak denger!" Ketus Laureen menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.
"Lo sering dapet teror?" Tanya Rayyan membuat Laureen tak bergeming lagi.
Laureen mengangkat wajahnya yang memerah dengan sedikit rambut yang menempel di wajahnya. "Maksud kamu?" Tanyanya.
"G-gue," Rayyan berfikir sejenak sebelum akhirnya berkata, "gak jadi" Ujarnya mungkin bukan waktu yang tepat untuk mengatakan hal tadi di sekolah karena pikiran Laureen juga kini tengah kacau.
"Ish, gak jelas!" Kesal Laureen kembali tengkurap.
"Udah dong sayang, 'kan tadi bercanda" Bujuk Rayyan memegang kedua bahu Laureen untuk mengangkat nya.
"Nanti gak bisa napas," Ujarnya.
"Sana, aku lagi badmood!" Usir Laureen.
"Padahal tadi gue udah cepet-cepet pulang, udah kepikiran buat bolos, udah keliling mall, udah ke minimarket, tapi balasannya cuma di cuekin" Gerutu Rayyan menggebu-gebu.
"Tadi aja gue minta temenin Salsa buat beli pembalut, udah kasih upah gede, tambah lagi bacotnya, karena bingung di borong semua, eh pas nyampe rumah malah udah punya, kurang apalagi coba pacar kayak gue? Udah ganteng, tajir, perhatian, pengertian, sayang sama ceweknya, eh ceweknya malah sayang sama bantal" Sambungnya membuat Laureen tegak.
Rayyan tersenyum bangga dengan dramanya, "Kamu gak ikhlas?" Tanya Laureen songong.
"Gak gitu sih, cuma lo nya aja yang gak peka makanya gue cecerin," Ucap Rayyan.
Laureen menatap lekat wajah pacarnya itu, ia kira Rayyan mengantar Chika terlebih dahulu, tapi ternyata ia membelikan banyak kebutuhan nya.
"Maaf," Ucapnya menunduk.
Rayyan tersenyum miring, kemudian telunjuknya tergerak untuk mengangkat dagu Laureen, mengamati lekat bibir merah muda alami itu perlahan wajahnya mendekat, Laureen sontak memejamkan matanya.
Rayyan tersenyum miring, kemudian tangannya tergerak untuk menjitak kepala Laureen.
Tak!
Laureen membulatkan matanya, padahal tadi ia kira Rayyan akan menciumnya, mendengus kecewa ia membuang muka enggan menatap senyum yang terukir miring di bibir Rayyan.
"Kirain...."
"Kirain apa, hm?" Goda Rayyan.
Ketokkan di pintu membuat atensi mereka berdua teralihkan, Rayyan mengusap pelan pucuk kepala Laureen dengan sebelah tangannya.
"Masuk" Ucapnya disela-sela mengusapnya.
Mendengar suara izin dari dalam membuat bi Saroh membuka pintu nya, "Kenapa, bi?" Tanya Rayyan saat melihat bi Saroh yang melongo.
"Oh ini, den. Bibi mau nganterin makanan soalnya dari tadi siang non Laureen nya gak makan" Jelas bi Saroh.
Rayyan menatap Laureen sengit, kemudian mengangguk, ia bangkit dari duduknya mengambil alih nampan itu.
"Makasih bi"
Rayyan duduk di pinggiran ranjang, "Lo harusnya makan, Ren. Biar lancar"
"Apanya yang lancar?" Tanya Laureen tak mengerti.
"Biar lancar aktivitas, gak mageran, gak emosian, gak sensitif," Jelas Rayyan.
Rayyan menyodorkan susu cokelat ke arah Laureen, Laureen menyeruput nya sedikit kemudian tangannya menyendok nasi di piring yang berada di tangannya, dengan telaten Rayyan menyuapi Laureen.
***
Kelopak mata Maureen perlahan terbuka. Ia mengerijab beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya.
Bau antiseptic serta obat-obatan lainnya langsung menyerang indra penciuman nya. Ia menatap langit-langit putih bangsal yang ia tempati.
Terlalu sering berada disini membuat nya tak perlu lagi repot-repot mengenali tempat apa ini.
Sudah puluhan menit dia bangun, namun tatapannya kosong menatap langit-langit kamar rawatnya dengan pikiran rumit.
Pikirannya berpacu pada Laureen, memorinya kembali teringat waktu Devandra mencaci-maki kakaknya itu.
Devano yang baru memasuki ruang VIP itu sontak melebarkan matanya dan langsung berjalan cepat ke arah sang adik.
"Udah bangun? Masih ada yang sakit?" Tanyanya dengan raut wajah khawatir dan lega.
Maureen menggeleng pela, "Kita di Singapura?" Tanyanya pelan.
Devano mengangguk mengiyakan, jelas saja Maureen mengenalinya setiap ia sakit ia akan dibawah kesini hingga keluarga nya sudah menyiapkan ruang kamar yang khusus untuknya.
"Laureen.... Mana?" Tanyanya.
Devano sedikit tertohok, terlalu panik membuatnya lupa akan adiknya yang satu itu, sekarang rasa paniknya kembali datang memikirkan, sedang apa adiknya saat ini? Apakah sudah makan? Masih sedih akan ucapan Devandra tempo hari?
Rasa bersalah kian memuncak saat Maureen berkata, "Bang Vano tinggalin Lau sendiri? Bukannya bang Vano kembali untuk nemenin Laureen kalau dia sendiri?" Tanya Maureen heran.
"Bang, please... Khawatirin Maureen sewajarnya, Mau masih punya mama dan papa yang peduliin, Mau. Sedangkan Lau? Dia gak punya siapa-siapa, gak ada yang peduli sama dia," Ucapnya, ia mendongak saat cairan bening di pelupuk matanya kian menumpuk, ia mencegahnya kemudian berkata. "Jangan buat Laureen benci sama Maureen," Ujarnya kemudian menghapus kasar air mata yang keluar.
Ia mengapai tangan Devano kemudian mendongak menatap lekat wajah tampan sang kakak, "Laureen lebih butuh abang, Maureen juga yakin sekarang Lau sedang gak baik-baik aja, prioritasin Laureen."
Devano mengangguk pelan kemudian tangannya meraih handphonenya, melihat banyak sekali notif di sana membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Kontak Rayyan yang berada di atas saat ia membuka aplikasi berwarna hijau, terihat pesan yang dikirim Rayyan kemarin.
Ia kembali bernapas lega, tanpa menjawab izin Rayyan ia kembali meletakkan handphone nya, menatap wajah sang adik yang terbaring di brankar.
"Laureen di rumah Rayyan." Ucapnya.
Entah rasa apa ini, bukan sakit hati, bukan juga cemburu, tapi seperti ada rasa sesak di dadanya, "Berdua aja?" Tanyanya.
"Ada orang tua Rayyan." Ucapnya kemudian mengacak-acak pelan rambut Maureen.
Devano beralih meraih mangkuk berisi bubur, ia menyuapi Maureen dengan telaten.
-SEE YOU NEXT PART-
KAMU SEDANG MEMBACA
PERGI
Acak⚠️PROSES PERBAIKAN⚠️ kisah sepasang gadis kembar yang banyak perbedaan. Dari perbedaan itulah membuat mereka membenci satu sama lain. Dan semesta menakdirkannya menyukai satu laki-laki yang sama. Akankah mereka mau mengalah? Dua gadis yang dekat ta...
