Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

65. Clone

270 35 9
                                        

*Tahun 0004, bulan 01, hari 31, Pukul 07.00 Waktu Negeri Utara.

"Uwaaaaaghhh!"

Ravi terbangun dengan panik, kedua tangannya menggapai-gapai ruang kosong, seperti berusaha mencari sesuatu untuk diraih.

"Ravi, sadarlah!" Suara anak kecil mengembalikan kesadaran Ravi.

"Ehh ... Maya? Kamu tidak apa-apa? ... Ta-tadi aku sudah membawa tubuhmu dari air, tapi setelah itu aku tidak ingat lagi ...." Ravi baru tersadar di mana dia berada sekarang. Ravi melihat tempat itu penuh dengan botol, gelas ukur, selang, rempah-rempah, seperti sebuah laboratorium.

 Ravi melihat tempat itu penuh dengan botol, gelas ukur, selang, rempah-rempah, seperti sebuah laboratorium

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Harusnya kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri ... Bagaimana pun juga aku sudah mati, mau kamu bawa tubuhku atau pun tidak, tidak akan mengubah keadaan, aku tetap mati." Wajah Maya menunduk.

"Ehh ... maaf, malah membuatmu menjadi sedih."

Maya menggeleng, lalu tersenyum. "Kamu orang baik, Ravi. Menjadi orang sepertimu pasti capek ya, lebih mementingkan orang lain daripada dirimu sendiri ... Maaf aku malah tambah merepotkanmu."

"Tidak masalah. Karena aku sudah berjanji, maka aku akan berusaha memenuhinya."

"Kamu sudah memenuhi janjimu kok." Maya tersenyum puas.

"Ehh ... jadi kamu sudah bertemu ayahmu?"

Maya menggangguk girang.

"Syukurlah, jadi sekarang kamu bisa kembali dengan tenang."

"Tentang itu ... sepertinya aku tidak yakin. Karena aku belum ingin kembali-"

"Ehhh? Kenapa? Sungguh baru kali ini aku mendengar ada arwah yang tidak ingin kembali ke sisi-Nya."

"Aku mau kembali kok ..., tapi tidak sekarang. Tidak sebelum aku bisa membawa ayahku pulang ke rumah."

"Kalau begitu, biar aku antar kalian pulang. Di mana beliau sekarang?"

Ravi buru-buru bangkit dari ranjangnya.

"Ravi, tunggu dulu! Sebetulnya ayahku belum tau kalau aku ada di sini-"

"Ehh? Bukannya tadi kamu bilang-"

"Iya aku sudah bertemu, hmm... lebih tepatnya aku sudah melihatnya ..., dari kejauhan. Dan dia belum melihatku. Sebetulnya aku ingin sekali memeluknya, tapi aku tidak mau mengganggunya ... dia sedang melakukan pekerjaan penting. Sungguh aku rela menunggunya sampai ayahku menyelesaikan penemuannya itu, baru kemudian aku akan menemuinya ...."

"Bohong! Kalau kamu rela, lantas kenapa kamu menangis? Tidak ada hal lain yang lebih penting dari pada keluarga!"

"Aa-aku sebenarnya ...." Maya tidak bisa meneruskan ucapannya, lalu tenggelam dalam tangisnya yang tertahan.

'Padahal aku sudah menjadi arwah, tapi kenapa aku masih merasakan kepedihan.'

"Ehemm! Biar aku yang menjelaskan."

Pencari ArwahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang