Tahun 0004, bulan 01, tanggal 22, pukul 12.00 Waktu Negeri Utara.
Di ruang makan istana. Salah satu bagian yang dijaga agar selalu dalam kondisi hangat, di antara ruangan yang lain dalam tembok dingin istana Negeri Utara.
Kepala pelayan berdiri di depan pintu penghubung koridor dengan ruang makan Raja. Dia sibuk mengatur anak buahnya untuk lekas membawakan menu makan siang utama.
"Berikutnya siapkan makanan penutup. Jangan beri terlalu banyak gula pada kue Pangeran Darius. Pangeran Atreus tidak suka kue, siapkan saja sop buah. Hiasi kue Putri Reyn dengan Cherry, dan tambahkan cream yang berlimpah untuk Pangeran Keane."
Kepala pelayan mengalihkan pandangan pada wajah tuan-tuannya, memastikan tuan-tuannya puas dengan pelayanannya. Tidak boleh ada cela. Hingga tiba-tiba Raja Umara mengangkat dua jari telunjuk dan tengah ke atas.
Kepala pelayan segera memberi aba-aba agar semua pelayanan keluar dari ruangan. Raja ingin diberi waktu pribadi dengan putra-putrinya. Kepala pelayan yang paling terakhir keluar, menundukan badan untuk memberi hormat kemudian menutup pintu secara perlahan, tanpa suara.
***
"Bagaimana perjalananmu, Darius? Apa angin laut membuatmu mabuk?" Suara besar dan berwibawa milik sang Raja, sesuai dengan fisik pemiliknya.
"Tidak ayah, perjalananku lancar," jawab Darius tanpa basa-basi.
"Lalu kenapa kamu baru bergabung sekarang? Bukankah kamu sudah tiba kemarin?"
"Maaf ayah, aku perlu menyusun laporan dulu. Aku tidak tenang bila itu belum beres."
"Aku belum sempat membacanya. Ceritakan apa yang terjadi di Negeri Timur?"
"Sepertinya itu ulah Ordo Kebebasan. Mereka membuat proyek untuk mengeruk emas di Negeri Timur dan menculik warga-warga di sana untuk bekerja paksa."
"Lalu apa yang mereka dapatkan?" Raja Umara Khan memasukan potongan daging terakhir ke mulutnya.
"Selain emas. Mereka sudah menewaskan Raja dari Hutan Lindung dan Raja dari Tanah Harimau. Kurasa negeri itu akan mengalami konflik yang panjang demi menjaga emas itu." Darius memandang ayahnya lekat.
Raja Umara Khan terdiam mendengar perkataan Darius. Umara Khan mengenal baik Ardei Swan dari Hutan Lindung dan Romli Tohara dari Tanah Harimau. Meskipun mereka tidak membantu penyerangan ke Negeri Selatan, setidaknya mereka juga tidak membantu musuh.
"Kak, kau tidak perlu menjelaskan hal seperti itu. Kau membuat ayah jadi memikirkan urusan negara saat ini. Ini kan acara santai untuk makan," protes Atreus.
"Aku hanya menjawab pertanyaan ayah." Darius menjawab dengan tenang.
"Seperti kataku kan ayah? Mereka sudah lama merencanakan ini," Keane menyambung pembicaraan sambil mengambil beberapa potongan daging dengan tangan, tak peduli pandangan jijik dari Reyn, kakak perempuannya.
"Ohh! Anak ini mau mulai lagi!" Atreus memutar bola mata.
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Keane? Sebaiknya bukan omong kosong. Di dinas intelejen harusnya kamu belajar banyak hal-" Raja Umara Khan belum menyelesaikan kalimatnya.
"Tentu saja ayah. Aku sudah cukup sibuk belajar dan memeriksa isu yang membahayakan negeri ini. Tidak seperti Kakakku Atreus yang sibuk dengan lobi-lobi politik hingga tidak ada pembicaraan yang menarik hatinya kecuali uang."
Atreus mendelik menatap Keane yang terkekeh, terang-terangan bocah itu menyindirnya.
"Jangan ganggu kakakmu, Keane! Fokus dengan yang kamu sampaikan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pencari Arwah
Misteri / ThrillerKisah pemuda bernama Ravi yang bertugas sebagai seorang Seeker (pencari) orang - orang yang hilang, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Berbekal kepekaan mata batinnya, Ravi menggunakan kelebihannya untuk berkomunikasi dengan para arwah...
