*Tahun 0004, bulan 01, hari 17, pukul 09.00 Waktu Negeri Timur.
Di hutan Jati.
"Gombel, apa benar di sini tempatnya?" tanya seorang warga bernama Rizal.
"Ehemmm!" Pak Nasiran berdeham.
"Ehh, maaf maksudku Margono, benar kan tempatnya di sini ya?" Rizal seperti mendapat kode, buru-buru meralat nama yang dia panggil.
"Hmm Iya, betul ... katanya ada di semak-semak," ucap Margono.
Beberapa warga bergumam dan mengeluh. Sudah 3 hari mereka melakukan pencarian tapi belum juga membuahkan hasil.
"Bau di tempat ini benar-benar membuatku jengkel!" ucap salah satu warga.
"Tempat ini sudah menjadi tempat pembuangan segala sampah manusia. Sisa makanan, barang pecah belah, kotoran, bangkai binatang. Seharusnya kalau cuma ada 1 bangkai, pasti langsung ketemu, tapi di tengah semua sampah ini, aku yakin setelah 3 hari kita berkutat dengan segala aroma di sini, paru-paru kita perlu dirontgen," Pak Sadun mencurahkan semua unek-unek.
"Padahal sudah dibuatkan tempat sampah dimana-mana, tapi masih saja ada buang sampah sembarangan, dasar manusia!" ucap warga yang lain.
"Perlu kuingatkan, kamu juga masih manusia." Rizal terkekeh.
"Sekarang masih manusia, tapi enggak tau besok, tergantung hasil rontgen, sepulang dari sini," sambung Pak Sadun bermaksud menyindir.
Pak Nasiran hanya diam saja, mengabaikan omongan Pak Sadun, dirinya sibuk menyibak rerumputan setinggi dada manusia dewasa kesana kemari. Kemudian mata Pak Nasiran membelalak menemukan sesuatu, tubuh Pak Nasiran membungkuk, berusaha melihat lebih jelas ke bagian dasar, diantara timbunan tanah ada potongan tubuh manusia.
Dengan hati-hati Pak Nasiran mengangkat potongan kaki yang dia temukan. Sedikit aneh karena ukuran kakinya lebih kecil, setelah dibersihkan ternyata hanya potongan kaki dari boneka yang mirip manusia. Dari ciri-cirinya seperti boneka perempuan dewasa.
"WOI! KETEMU DI SINIIII!" teriak seorang warga 10 meter dari lokasi Pak Nasiran, semakin jauh hampir masuk ke dalam hutan.
Beberapa warga mengangkat kepala dari semak-semak mencari sumber suara, lalu segera berlari ke arah asal suara.
"Benar ketemu?" tanya Pak Sadun menutup hidung.
"Benar ini Angga!" ucap Rizal.
Pak Nasiran segera mendekat. Menyingkirkan beberapa lalat yang beterbangan. Matanya kali ini betul melihat tubuh Angga yang terbujur kaku mulai membusuk masih berpakaian lengkap dengan bercak darah di seluruh bajunya.
Pak Nasiran merasa ngilu seketika, Matanya memerah dan seketika kumpulan air mata menetes membasahi maskernya. Tangan Pak Nasiran menutup kelopak mata dan mulut Angga yang masih terbuka, kaku. Pak Nasiran dapat membayangkan, di akhir hayat Angga mencoba berteriak, namun tidak ada yang menolong, hanya semak-semak dan pepohonan jati yang mendengar teriakannya.
"Tolong masukan jasad Angga ke karung, kita bawa pulang sekarang!" suara Pak Nasiran terdengar lirih dan parau.
***
Beberapa jam kemudian setelah sampai di desa Rawagaru.
Rombongan beberapa orang warga mendatangi balai desa Rawagaru yang sedang dalam proses perbaikan. Rombongan itu membawa 3 gerobak, masing-masing gerobak berisi 2 mayat dengan seragam police yang ditumpuk asal.
Salah satu warga dari rombongan yang baru datang maju menghadap Pak Nasiran untuk melapor.
"Selamat siang Pak Nasiran, sesuai petunjuk dari Gombel-" kalimatnya terhenti karena ada seseorang menyikut lengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pencari Arwah
Misteri / ThrillerKisah pemuda bernama Ravi yang bertugas sebagai seorang Seeker (pencari) orang - orang yang hilang, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Berbekal kepekaan mata batinnya, Ravi menggunakan kelebihannya untuk berkomunikasi dengan para arwah...
