*Tahun 0004, bulan 01, hari 17, pukul 17.00 Waktu Negeri Timur.
Di pemakaman keluarga kerajaan Tanah Harimau.
Lingkaran cahaya portal berwarna ungu mulai memudar, digantikan oleh sinar matahari sore yang menembus dedaunan pohon Kamboja hingga membentuk bayangan daun di sebuah pusara. Di bagian permukaan pusara terpahat sebuah nama.
Ramli Tohara / Tuan Haji VI
Lahir : 28 Desember 1972
Wafat : 14 Januari 2032 (tahun lama)
: 14 Januari 0004 (tahun baru)
Di atas nama itu juga terpahat sebuah ukiran berbentuk bunga. Bagian tangkainya berwarna persis dengan pusara, sedangkan di bagian kelopaknya berwarna merah. Warna merah itu membuat pusara Tuan Haji ke 6, terlihat lebih mencolok dibandingkan pusara lain yang didominasi warna putih semen.
"Bukankah ini bentuk bunga Coquelicot?" Ravi baru menyadari adanya ukiran itu setelah menyeka air matanya.
"Itu memang ukiran bunga Coquelicot. Sudah sejak lama bunga itu dijadikan sebagai simbol penghormatan pada jasad seseorang yang dianggap pahlawan," di belakang Ravi, Catherine menerangkan.
"Kamu tau juga tentang bunga Coquelicot? Padahal bunga itu sudah langka sekarang,"
"Temanku bernama Tere yang memberitahuku. Dia menanam bunga ini di halaman rumahnya. Setauku bunga ini mengandung candu, kenapa bisa dianggap sebagai simbol untuk pahlawan?" tanya Ravi.
"Saat terjadi perang besar ketiga dan keempat, banyak tentara yang gugur sambil menggenggam bunga Coquelicot. Mereka mencium aroma bunga Coquelicot untuk menghilangkan rasa sakit menjelang kematian mereka. Sejak saat itu bunga Coquelicot dijadikan simbol penghormatan pada makam pahlawan," terdengar suara seorang pria menyambung pembicaraan, memberikan jawaban dari arah belakang.
Ravi dan Catherine menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang pria muda berwajah tampan dengan jenggot hitam tipis di dagunya. Dia memakai jubah dan surban berwarna putih, hampir menyerupai penampilan Tuan Haji VI.
"Lama tak berjumpa saudaraku," sapanya mendekat ke arah Ravi.
Ravi langsung membuka tangan, memeluk pria di hadapannya. Setitik air mata kembali terurai dari kelopak mata Ravi. Setelah beberapa lama, mereka saling melepas pelukan, saling tersenyum ramah.
"Maafkan aku, Rasyid. Aku tidak bisa melindungi Tuan Haji. Seharusnya aku tidak melibatkan beliau, maafkan aku ..." Ravi tertunduk dan menangis.
"Itu sudah suratan takdir ... tidak ada yang bisa menolaknya. Kita hanya bisa mengikhlaskan. Bukankah itu yang beliau ajarkan kepada kita," ucap Rasyid Tohara dengan wajah teduh memancarkan ketenangan.
"Iya, tapi ..." kalimat Ravi terhenti karena rasa pilu yang tersedak hingga tenggorokannya.
"Seandainya aku yang mendengar kabar tentang Bukit Slarang, pasti aku yang akan datang membantumu. Dan pastinya aku sudah siap dengan segala konsekuensi pertempuran itu, apakah aku akan kembali dengan utuh atau kembali hanya dengan nama ..."
"... begitu juga dengan Ayah Ramli, beliau pasti sudah sangat ikhlas mengorbankan dirinya untuk melindungimu. Kuharap kamu tidak menyia-nyiakan pengorbanan beliau."
Ucapan Rasyid Tohara membuat kedua kaki Ravi seketika berlutut di atas tanah dan kedua tangannya memeluk kaki Rasyid.
"Maafkan aku ..." Ravi menangis, air matanya membasahi kain celana Rasyid.
"Sudahlah Ravi, jangan buat aku menjadi tidak ikhlas ...," air mata berlinang di pipi Rasyid, dirinya sedikit membungkuk menepuk pundak Ravi, berusaha mengangkat pundak itu agar tidak berlutut, kemudian memeluknya sekali lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pencari Arwah
Misterio / SuspensoKisah pemuda bernama Ravi yang bertugas sebagai seorang Seeker (pencari) orang - orang yang hilang, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Berbekal kepekaan mata batinnya, Ravi menggunakan kelebihannya untuk berkomunikasi dengan para arwah...
