35. Asap

710 85 288
                                        

*Tahun 0004, bulan 01, hari 18, pukul 20.00 Waktu Negeri Timur.

Di area pengungsian Desa Rawagaru.

Rumah-rumah di Desa Rawagaru masih dalam proses perbaikan, setelah sebelumnya terbakar habis oleh ulah anak buah kontraktor tambang emas. Bertahun-tahun perjuangan, habis dalam waktu semalam. Api telah menjadi trauma tersendiri bagi warga Desa Rawagaru.

Di dalam salah satu tenda, Sarah merasa begitu gerah hingga membuka lebar-lebar baju yang menutup perutnya, menampakan perutnya yang sudah bulat membesar, masih sabar menanti kelahiran sang buah hati 2 minggu lagi, begitu prediksi bidan di kota.

Rizal Sang suami masih setia menggerakan tangannya mengipasi sang istri. Cuaca malam itu terasa begitu panas, padahal masih musim penghujan.

"Nanti 3 hari sebelum HPL, kuantar kamu ke bidan Tantri ya, kamu menginap di sana sama ibu."

"Miris sekali ya, di saat dedek bayi mau lahir, rumah kita terbakar, kita dijadikan budak penambang emas di bukit Slarang dan kini kita tinggal di tenda pengungsian, kasian dedek bayi." Sarah meneteskan air mata.

"Sabar ya Bu, beberapa Minggu lagi rumah warga akan selesai diperbaiki, meskipun kondisinya tidak sebagus dulu, minimal kita sudah menyiapkan tempat tinggal yang nyaman untuk dedek bayi," ucap Rizal sambil mengusap air mata di pipi istrinya.

Sarah hanya mengangguk mendengar ucapan sang suami, dia mengharapkan hal sama. Tangan Sarah mengusap-usap perut, menenangkan dedek bayi yang sedang aktif menendang.

TENG. TENG. TENG!
Tiba-tiba terdengar bunyi besi dipukul. Sebuah pertanda ada kejadian besar di Desa. Rizal meminta izin kepada istrinya untuk keluar tenda, mencari tau ada kejadian apa.

"Ada apa Pak?" tanya Rizal pada warga yang lewat.

"Ada asap mengebul di balai desa, sepertinya ada kebakaran!" Bapak itu segera berlari menuju ke balai desa.

'Kebakaran lagi? Ya Tuhan cobaan apalagi ini?' batin Rizal.

Hampir semua warga keluar dari tenda, sebagian besar baru sadar dari tidurnya, berbondong berkerumun mencari tau apa yang terjadi. Sebagian orang sudah berlari menyusul ke balai desa sambil membawa ember berisi air. Rizal yang ikut panik segera menyusul warga menuju balai desa.

***

Di balai Desa Rawagaru.

Warga desa sudah berkumpul, mengelilingi sebuah mobil yang berhenti tepat di depan balai desa dengan asap mengepul. Warga nampak menjaga jarak dari mobil karena khawatir mobil itu meledak sewaktu-waktu.

"Tunggu apa lagi ayo siram!" teriak Pak Sadun.

"Tunggu dulu!" Sebuah suara dari dalam mobil.

Warga menahan kembali ember yang sudah bergoyang ingin menumpahkan isinya.

Dari dalam mobil nampak Ardo Whales mengangkat tangan tinggi-tinggi dan di pintu yang lain Erik juga keluar dengan mengangkat tangan, seperti orang bersalah yang menyerahkan diri.

"Harap tenang semua!... Ini bukan kebakaran, ini hanya asap rokok!" ucap Ardo Whales lantang, mengacungkan puntung rokok di jarinya yang masih menyala.

Warga saling memandang, kemudian kompak mencemooh, "HHHUUUUUUUUUU!"
Tampak muka kesal dari para warga.

"Maaf ya ... Hehe." Ardo Whales meringis sambil mengatupkan kedua tangan ke arah para warga.

"Sudah terlanjur bawa air nih, boleh tetap disiram enggak, Pak Kades?" teriak Pak Sadun memprovokasi.

Pak Nasiran hanya menundukan kepala, bingung harus berkata apa.

Pencari ArwahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang