*Tahun 2027, bulan 08, hari 18, pukul 09.30 Waktu Negeri Timur. (1 tahun sebelum terjadi perang besar keempat)
Di ruang meeting, kantor gubernur Kota Lindung, sedang diadakan meeting kecil di antara 5 orang.
Frank Slynn membungkukkan badan untuk menandatangani 2 lembar surat perjanjian.
"Oke, ini sebagai bukti kesepakatan perjanjian kita, 1 lembar untuk Mr. Hankok dan 1 lembar untukku," ucap Frank Slynn begitu ramah pada Mr. Hankok.
"Well, kalau begitu butuh berapa lama kami bisa memulai proyek di Bukit Slarang?" tanya Mr. Hankok.
"Secepatnya Mr. Hankok," Frank meringis memamerkan deretan gigi emasnya.
"Saya butuh kepastian, berapa tahun? Berapa bulan? Berapa hari?" desak Mr. Hankok.
"Emmm ... tentang itu, butuh berapa lama Pak Taher?" tanya Frank pada Taher Kepala Bidang Pembangunan Daerah.
"Paling cepat sekitar 2 tahun Pak Frank, kita perlu mengadakan survey ke area tambang, eksplorasi, memeriksa dampak lingkungan, baru menerbitkan izin, dan tentunya juga perlu sosialisasi masyarakat sekitar yaitu Suku Babakan," ucap Taher.
"Kami tidak bisa menunggu selama itu Pak Frank, lalu apa gunanya uang yang telah kami berikan kepada anda?" protes Mr. Hankok.
"Ehh...Saya janjikan 6 bulan selesai, termasuk semua izin untuk proyek." Frank Slynn bersikap manis.
"...tapi Pak Frank, itu menyalahi prosedur," interupsi dari Taher.
"Di sini aku Gubernurnya, Taher! Aku bilang 6 bulan, ya harus 6 bulan. Kamu keluar saja dari ruangan, bukannya bantu malah sok tau!" usir Frank.
Wajah Taher memerah, merasa dipermalukan, lalu melangkah meninggalkan ruangan meeting.
Mr. Hankok memperhatikan Taher meninggalkan ruangan, lalu kembali menatap ke arah Frank.
"Well, kalau begitu 6 bulan dari sekarang, proyek akan kami jalankan. Sesuai surat perjanjian, kami akan memberikan 40% keuntungan ke rekening pemerintah daerah," ucap Mr. Hankok.
"Kirim ke rekening saya saja, biar nanti saya yang mengelola ... hehe." Frank begitu bahagia.
"Well, baiklah kalau begitu. Kami pamit undur diri." Mr. Hankok dan Mr. Lee berdiri, bersalaman dengan Frank dan asistennya Bambang, lalu meninggalkan ruang meeting.
Setelah Mr. Hankok dan Mr. Lee meninggalkan ruangan, Frank langsung meloncat kegirangan ke arah sofa.
"Yess! Kita berhasil Bambang, ini proyek besarrrr, kita bisa jadi kaya raya." mata Frank berbinar-binar.
"Hmm ... maaf, saya tidak bermaksud merusak kebahagiaan Pak Gubernur, tapi kita masih punya satu masalah. Bagaimana kita bisa membujuk Suku Babakan? Mereka tidak akan pergi dari Bukit Slarang," tanya Bambang.
Frank Slynn seketika terdiam, berdiri dari sofa, mondar-mandir di ruang meeting. Walaupun umur sudah melebihi kepala 5, namun masih gesit berjalan, apalagi berkaitan dengan uang.
"Aha! Kita beri uang saja untuk kepala sukunya ... siapa itu namanya? Jabul? Jabra?"
"Japra Kannai namanya," jawab Bambang, di usianya yang hampir masuk 50 tahun, Bambang sudah cukup memahami semua tipikal Gubernur tiap periode. Mereka semua suka uang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pencari Arwah
Mistero / ThrillerKisah pemuda bernama Ravi yang bertugas sebagai seorang Seeker (pencari) orang - orang yang hilang, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Berbekal kepekaan mata batinnya, Ravi menggunakan kelebihannya untuk berkomunikasi dengan para arwah...
