*Tahun 0004, bulan 01, hari 10, pukul 17.00 Waktu Negeri Timur.
Sore hari di Desa Rawagaru
"Ehhh? Berangkat sekarang?? Masih sore nih? Katanya tadi, nanti malam perginya?" protes Angga pada Ravi.
"Kalau berangkat sore dari sini, sampai Gunung Slamet kan malam. Kalau kita berangkatnya malam bisa-bisa subuh baru kembali, makin telat kita." Ravi menerangkan sambil berkemas-kemas.
"Betul juga ya, kalau begitu aku berkemas-kemas dulu," jawab Angga buru-buru beranjak pergi. Tubuh gempalnya berguncang saat dia berlari.
***
Beberapa waktu kemudian, Angga dan Ravi pamit kepada Pak Kades.
"Jadi kita langsung ke Gunung Slamet ya?" Angga memastikan.
"Tidak, kita mampir dulu ke tempat Gombel, tolong tunjukan jalannya ya!" pinta Ravi.
"Kamu kenal Gombel? Dan dari mana kamu tau kalau tempat Gombel paling dekat dengan Gunung Slamet?" tanya Angga curiga.
"Ohh iiiya ... aku baru ingat, kata Pak Sadun kamu kan ditemukan pingsan di pinggir hutan, tempat itu memang dekat dengan tempat Gombel dipasung. Pasti sebelumnya kamu sudah bertemu dengan Gombel ya. Hmm ... paham aku," kata Angga cengengesan.
Ravi belum juga sempat membuka mulut untuk menjawab, lalu meneruskan perjalanan kembali.
"Eitts! berhenti sebentar Ravi! Tunggu di sini sebentar!" pinta Angga pada Ravi, kemudian dirinya berlari-lari menuju ke salah satu rumah warga.
Ravi, melihat Angga menuju ke sebuah rumah kecil bercat hijau di pinggir jalan. Angga mengetuk pintu, lalu tidak lama kemudian muncul seorang gadis dari rumah itu, gadis berusia sekitar 21 tahun dengan tubuh berisi, lebih tua 3 tahun dari Ravi. Angga terlihat menyerahkan sebuah kado pada Si Gadis, wajahnya tampak merona tersipu bahagia saat menerima kado. Kalau dibandingkan, wajah si gadis terlihat begitu muda, sangat kontras dengan wajah Angga yang sudah berusia 30 tahun.
Angga lalu berpamitan pada si gadis, kembali ke arah Ravi. Si Gadis melambai tersenyum dari pintu rumahnya. Seperti gadis desa yang lainnya gadis itu memiliki kulit putih terawat dengan rambut hitam panjang hingga mencapai punggung.
"Seperti Kunti," gumam Ravi, tanpa sadar.
"Ehhh? Kunti?? Mana? Mana?" Angga celingukan ingin melihat dimana Kunti, padahal kalau melihat pun Angga pasti pingsan karena takut dengan Kunti.
"Ehhh ... nggak, tadi aku melihat gadis itu punya rambut panjang seperti Kunti," jawab Ravi polos, Angga melotot tersinggung mendengar itu.
"Maaf ..." sambung Ravi.
"Cantik-cantik begitu di bilang Kunti? Sembarangan, Lani itu tunanganku, dia manusia," jawab Angga sewot.
Ravi sadar telah salah ucap, dia merasa menyesal telah keceplosan bicara, tapi bukan karena pembicaraan tentang Lani, melainkan karena menyebut nama satu makhluk, tapi sudah terlambat.
"Halooooo ... gantengggg! ... kangen ya sama aku ya... hihihihi," sapa Kunti sudah melayang di sebelah Ravi.
"Baru 1 malam nggak bertemu, sudah kangen sama Kunti ya ... hihihi." Kunti riang gembira berputar-putar. Ravi mengacuhkan karena ada Angga yang berjalan di sampingnya.
"Ehhh ... kok tiba-tiba jadi bau melati ya? Jangan-jangan bener ada Kunti di sini? Bener ya Ravi?" Angga panik dan mendekat bersembunyi di belakang Ravi.
"Perasaan kamu saja mungkin," jawab Ravi sekenanya.
"Memang aku ada kan ... hihihihi." Kunti berada tepat di depan Angga, tapi tidak terlihat olehnya. Kunti berputar ke belakang Angga dan meniup-niup lehernya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pencari Arwah
Misterio / SuspensoKisah pemuda bernama Ravi yang bertugas sebagai seorang Seeker (pencari) orang - orang yang hilang, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Berbekal kepekaan mata batinnya, Ravi menggunakan kelebihannya untuk berkomunikasi dengan para arwah...
