*Tahun 0004, bulan 01, hari 10, pukul 11.00 Waktu Negeri Timur.
Ravi melihat wanita berkerudung di hadapannya terus meronta, tubuhnya dicabik-cabik ratusan gagak. Paruh dan cakar gagak telah mengorek ke dalam daging, pembuluh darah hingga ke tulang-tulangnya.
"Tolong Ravi ... !" pinta wanita itu memelas, di dalam penderitaan, dia memohon pertolongan.
Ini tidak bisa dibiarkan, setelah selama ini Ravi hanya bisa diam, dia harus bisa melawan, Ravi menguatkan tekad untuk menolong wanita tersebut.
Ravi mencoba menggerakan badannya yang terasa begitu berat, seperti tertindih gunung, Ravi seperti menerima puluhan kali lipat gravitasi bumi, tapi Ravi tidak menyerah, dia mencoba terus bangkit, tekadnya semakin kuat, berusaha mengalahkan kekuatan yang mengekang tubuhnya.
Kaki kanan Ravi berhasil melangkah mendekat, membuat ratusan gagak terkejut dan mengalihkan perhatiannya kepada Ravi.
Berikutnya kaki kiri, seketika ratusan gagak segera terbang mengitari Ravi, berkoak-koak.
"Dia layak mati ..."
"Dia layak mati ..."
"Lihat dirimu ...!"
Mereka bersuara?
Gagak-gagak itu untuk pertama kalinya bersuara, tapi ada begitu banyak gagak, apakah benar itu suara dari salah satu gagak?
Pikiran itu mengacaukan konsentrasi Ravi, langkah kaki kirinya belum mencapai tanah, ketika puluhan kali lipat gravitasi kembali menarik tubuh Ravi jatuh berdebam ke tanah. Terlalu berat, Ravi tidak bisa menggerakan badannya.
"Tolong aku Ravi!" suara dari wanita itu kembali.
Kepala Ravi menengadah melihat ke arah wanita berkerudung, jemarinya berusaha menggapai tangan Ravi. Begitu pula tangan Ravi berusaha menggapai jemari wanita itu, tinggal sedikit lagi jari-jari mereka bertemu, ketika ratusan gagak kembali mengerubung Ravi, salah seekor gagak yang bermata biru mematuk-matuk jari Ravi.
'Sakit!'
Ravi memejamkan mata menahan sakit.
"Sakit! ... tolong hentikan!" erang Ravi.
"Sakiiitttt!"
Kali ini mata Ravi terbuka, napasnya tersengal, lalu pemandangan di sekitar Ravi berputar cepat, Ravi memandang dunianya telah berubah, mendapati dirinya tengah terbaring di sebuah rumah, dan orang-orang tak dikenal berkeliling melihatnya.
"Dia sadar! .... woiii! .... dia sudah sadar!" seru orang-orang di sekitarnya, antusias melihat ke arah Ravi.
Ravi berusaha mengumpulkan kesadaran, meyakinkan diri bahwa barusan tadi hanya mimpi, tapi Ravi masih merasakan keanehan, sebab jari-jarinya masih terasa sakit seperti di dalam mimpi. Ravi mencoba memperhatikan ke arah jemarinya, rupanya ada orang yang sedang menusuk-nusukan jarum jahit ke ibu jarinya.
"Sudah hentikan Pak Sadun! Lihat itu dia sudah bangun!" seru warga.
"Oh iya ya!? Sudah sadar ternyata hehe, rasanya seru juga pakai jarum ... hehe." Pak Sadun cengengesan.
"Iya!? Karena bukan kamu yang ditusuk Sadun, coba kamu yang ditusuk? Apa kamu masih bisa cengengesan? Sini aku tusuk!" gertak Bu Sadun, berjalan mendekat ke arah Ravi.
Pak Sadun, ciut nyalinya melihat kedatangan sang istri. Sudah cukup dia merasakan cakaran karena amukan Sang Istri kemarin di belakang pendopo, goresan cakarnya masih terlihat membekas di pipi hingga sekarang, sebagai bukti keganasan sang istri, sakitnya pun masih terasa dan yang lebih menyakitkan tentu saja rasa malu yang luar biasa. Pak Sadun menjauh dari Ravi. Sontak warga beramai-ramai meledek Pak Sadun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pencari Arwah
Mystère / ThrillerKisah pemuda bernama Ravi yang bertugas sebagai seorang Seeker (pencari) orang - orang yang hilang, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Berbekal kepekaan mata batinnya, Ravi menggunakan kelebihannya untuk berkomunikasi dengan para arwah...
