*Tahun 0004, bulan 01, hari 17, pukul 13.00 Waktu Negeri Timur.
Di rerimbunan pohon waru di Gunung Slamet. Hanya sedikit sinar matahari yang mampu menembus lebatnya rimbunan pohon. Suasana menjadi tampak temaram.
Dua anak perempuan sedang duduk di tanah bermain boneka, menghiraukan bayang-bayang cabang pohon waru yang bergerak seperti jemari hitam yang melambai di tengah sunyinya hutan.
"Ehh ... Winda, buatin bubur dengan jeroan kera dong, buat dedek bayi, dia kelihatannya laper," ucap Wanda sambil menimang-nimang boneka.
"Jeroannya mau yang hati atau jantung atau usus?"
"Jantung aja, siapa tau setelah makan jantung kera, boneka ini bisa hidup,"
"Gitu ya, kuambil dulu jantungnya," Winda berjalan ke arah bangkai kera dewasa yang tergeletak tidak jauh dari mereka, lalu menyeret salah satu kaki kera itu mendekat ke arah Wanda.
Winda mencabik-cabik dada kera dengan kukunya yang panjang, tanpa membersihkan bulu-bulu hitamnya terlebih dahulu. Cipratan darah dan pecahan daging menempel di jemari tangannya, membuat Winda menjadi tertarik.
"Emmm ... enak," Winda mengecap darah yang menempel di telapak tangannya.
Melihat itu, perhatian Wanda teralihkan, ditinggalkan bonekanya begitu saja di tanah, lalu bergabung dengan Winda, mencicipi darah kera.
"Heiii!? Kenapa kalian malah makan? Kalian kubayar untuk bermain jadi anak-anakku!" protes Wewe yang duduk tidak jauh dari mereka.
"Kami lapar ... kami kan sudah bermain sejak matahari belum muncul, sampai sekarang matahari sudah di atas kepala," protes Wanda.
"Lagipula yang kau berikan cuma kera, kalau kau mau berikan kami seekor sapi, kami janji akan main lebih lama. Apalagi kalau kau mau berikan kami manusia," Winda terkekeh.
"Dasar rakus! Sini kembalikan bonekanya!" perintah Wewe.
Sosok berwujud Wanda berdiri dari tempat makannya, masih mengecap beberapa darah di jemarinya lalu berjalan memungut boneka yang tergeletak di tanah, segera memberikan kepada Wewe.
"Hari ini sudah selesai ya, nanti kalau ada makanan lagi, kami mau main lagi jadi anakmu," ucap sosok yang menyerupai Wanda yang kemudian berubah ke wujud aslinya menjadi Tuyul.
"Sana pergi!" usir Wewe kesal.
Kedua Tuyul itu takut melihat Wewe yang mulai marah. Sebelum Wewe berubah pikiran, mereka buru-buru pergi menyeret bangkai kera masuk ke dalam hutan. Darah kera tercecer membekas di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Suasana menjadi sepi kembali. Tak ada suara anak-anak bermain, tak terdengar canda mereka lagi, tak terdengar suara mereka yang saling berebut mainan. Hanya ada suara angin yang berhembus menyusup di antara semak-semak, membawa aroma anyir darah kera.
Wewe memandang lekat bonekanya. Dulu boneka itu milik putrinya. Warnanya kini sudah memudar, sudah tidak pink secerah dulu, warna pink yang sekarang sudah kusam, bahkan hampir memutih, ditambahi bercak darah kental yang mengering berwarna gelap di beberapa bagian boneka.
Jemari Wewe mengusap lembut permukaan boneka, rasanya sudah tidak sehalus dulu. Beberapa benang sudah mencuat di sana-sini.
Wewe tampak melamun teringat saat pertama dia membelikan boneka itu untuk Wanda. Keduanya begitu riang menerima boneka itu, namun dirinya yang dulu mengabaikan momen itu. Dirinya yang dahulu lebih menyukai uang daripada senyum putri-putrinya.
Wewe memeluk erat boneka itu di tengah payudaranya yang menjuntai hingga ke tanah. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya yang penuh kesedihan.
"Bila waktu bisa diputar kembali, aku rela menukarnya dengan apapun, demi melihat kebahagiaan di wajah putriku kembali."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pencari Arwah
Misterio / SuspensoKisah pemuda bernama Ravi yang bertugas sebagai seorang Seeker (pencari) orang - orang yang hilang, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Berbekal kepekaan mata batinnya, Ravi menggunakan kelebihannya untuk berkomunikasi dengan para arwah...
