Kisah pemuda bernama Ravi yang bertugas sebagai seorang Seeker (pencari) orang - orang yang hilang, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati.
Berbekal kepekaan mata batinnya, Ravi menggunakan kelebihannya untuk berkomunikasi dengan para arwah...
*Tahun 0004, bulan 01, tanggal 22, pukul 16.00 Waktu Negeri Utara.
Pasar Lama Kota Cannibis.
"Apa keadaanmu sudah baik-baik saja, Ravi?" tanya seorang pemuda gemuk, suaranya agak mengecil karena lehernya terlilit syal rajutan merah yang dipakai dengan cara diikat.
Sewajarnya syal hanya dilingkarkan di leher, tapi menurut pemuda itu bila syal diikat akan lebih menghangatkan tubuh. Mungkin itu hanya sensasi panas karena lehernya tercekik.
"Aku baik-baik saja, Karsen. Maaf sudah merepotkanmu." Ravi berjalan dengan kikuk di tengah keramaian pasar.
Bila boleh memilih, Ravi lebih suka duduk menyendiri di kesunyian daripada harus berada di keramaian. Ravi merasa energinya terkuras saat berada si tengah banyak orang.
"Karsen? Memangnya aku sejenis buah-buahan? Aku sampai capek memberitahumu, namaku Car-Son. Carlie-Alfa-Romeo-Sierra-Oscar-November. Ya ampun! Apa aku perlu memakai papan nama?" keluh Carson, tapi Ravi hanya meringis kecil.
"Ya sudahlah. Ravi, kamu ingin makan sesuatu? Sejak kamu pingsan di dermaga 7 jam yang lalu, aku belum melihatmu makan apapun kecuali minum teh."
Ravi menggeleng.
"Ayolah jangan malu-malu. Kamu ingin makan apa? Bilang saja, kujamin masakan di Negeri Utara lebih enak daripada masakan Negeri Timur. Aku tidak mau kamu pingsan lagi, aku bisa mati kebosanan menunggumu sampai sadar." Carson menghela napas di samping Ravi, uap napasnya mengepul hangat di udara yang dingin.
"Maaf, sebenarnya aku lapar, tapi aku masih merasa mabuk laut. Aku khawatir apa yang kumakan nanti akan keluar lagi." Ravi memegangi perutnya.
"Tak apa kalau keluar lagi, daripada kosong sama sekali. Ayo kuajak kamu ke warung yang terkenal di pasar Cannibis ini."
Badan bongsor Carson memudahkan dia menerobos banyak orang di pasar, Ravi hanya menatap punggung mengekor di belakang Carson.
"Nah! Kita sudah sampai di warung ikan bakar Pak Ubay. Uwaa! Penuh sekali! Kuharap masih ada bangku kosong untuk kita."
Carson berjinjit di tengah kerumunan orang untuk mengintip ke dalam warung, memastikan masih ada bangku kosong untuknya dan Ravi. Sebenarnya tanpa menjijit pun Carson sudah paling tinggi di antara keramaian orang, tubuh bongsornya begitu mencolok.
"Boleh kita mencari warung lain?" Ravi bersuara pelan.
"Ehhh!?" Carson pemuda yang begitu ekspresif, teriakannya sampai menarik perhatian pengunjung di warung.
"Aku membaca catatan tentangmu, katanya kamu suka ikan bakar kan? Apa aku salah baca profil seeker yang lain?" Carson membuka gumpalan kertas dari sakunya yang berisi coretan tangan gambar wajah dan profil tentang Ravi.
"Hmm, aku suka tapi bukan di tempat ini." Ravi mengalihkan pandangan dari warung dan berjalan menjauh, Carson mengikuti Ravi.
Baru beberapa langkah Ravi berhenti mendadak, jalannya tertutup. Sosok tubuh ular besar menghalangi pandangannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.