*Tahun 0004, bulan 0001, hari 30, pukul 21.00 Waktu Negeri Utara.
Kota Kratom, ibu kota Negeri Utara.
"NGUUUUUUUUUUUNNGGG!"
Suara sirine meraung di seluruh penjuru negeri.
Mendengar sirine itu, bukannya masuk tetapi malah mendorong rasa penasaran sebagian warga untuk ke luar rumah.
"Ada apa, Will?"
"Ada serangan di istana, Pak. Kabarnya pembunuh bayaran dari Negeri Timur menyerang Pangeran Keane."
"Terus bagaimana kabar Pangeran Keane?" tanya Pak Gerry.
"Katanya sih terluka, tapi hanya luka ringan, Pak."
"Kasihan Pangeran Keane ...,"
"Pak Gerry ngga kasihan juga sama saya?"
"Memang kamu kenapa, Will?" Mata Pak Gerry menyelidik ke badan Willy, khawatir kalau anak tetangganya itu jadi korban KDRT.
"Saya laper, Pak. Tadi sore udah makan, tapi sekarang laper lagi, Pak."
"...." Pak Gerry menghela napas, dia terlanjur memikirkan hal yang terlalu jauh, padahal masalahnya hanya sepele.
"Ayuk, kalau begitu mampir ke rumahku, Will. Ada ubi rebus, lumayan buat ganjel perut."
"Ngga mau, Pak. Tiap ronda Pak Gerry selalu bawa ubi rebus, pulangnya saya selalu dimarahin Ibu, karena jadi sering kentut di rumah. Saya minta ayam goreng, kalau ngga ikan bakar atau wagyu juga ngga apa-apa, Pak."
"..." Pak Gerry menatap anak tetangganya tanpa berkedip. "Will, di sana kan ada lapangan, kita ke sana yuk! Kita baku hantam!"
"Ngga Pak, makasih. Kalau saya menang, ngga bikin bangga. Kalau kalah, malah malu-maluin. Masa kalah sama aki-aki ... AKKKGH!"
Tanpa babibu Pak Gerry sudah memiting leher Willy.
"TAU DIRI DASAR BOCAH!"
"PRITTTTTTTT!"
"Oiii! Hentikan!" Beberapa petugas keamanan berlarian mendekat.
"Ada apa ini? Kenapa bapak dan anak sampai berkelahi?"
"Sembarangan! DIA BUKAN ANAKKU! Hosh ... Hosh ...." Padahal hanya memiting Willy, tapi dada Pak Gerry sudah kembang kempis.
"Yang sopan kepada petugas, tidak perlu teriak begitu," tegur salah satu petugas.
"Eh-Maaf, Pak. Saya khilaf. Bapak-bapak kalau sudah kenal dengan anak ini, saya yakin akan melakukan hal yang sama seperti saya."
"Sekarang bukan waktunya untuk bercanda seperti itu, Negeri Utara sedang dalam kondisi siaga. Berandal dari Negeri Timur masih berkeliaran di kota ini, sebaiknya kalian kembali ke rumah masi-"
"Ndan! ... Ndan!" salah seorang petugas sepertinya tertinggal di belakang, menyusul berlari menuju ke arah rombongan.
"Ada apa?" Sang Komandan menyahut.
"Lapor! Tadi saya melihat seseorang yang mencurigakan di halaman rumah keluarga Blacksmith. Maaf karena kondisi gelap, saya tidak memastikan siapa orang itu, saya curiga kalau itu berandal dari Negeri Timur."
"Benar juga, rumah itu sudah kosong. Keluarga Blacksminth menghilang sejak beberapa hari yang lalu ...." Sang Komandan terlihat mengingat-ingat kasus pencarian keluarga Blacksmith sebelumnya. "Kita ke sana sekarang!"
Pak Gerry dan Willy saling pandang.
"Gimana Will?" Pak Gerry berusaha mencari teman untuk menemaninya mencari tahu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pencari Arwah
Mystery / ThrillerKisah pemuda bernama Ravi yang bertugas sebagai seorang Seeker (pencari) orang - orang yang hilang, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Berbekal kepekaan mata batinnya, Ravi menggunakan kelebihannya untuk berkomunikasi dengan para arwah...
