Dika menutup laptopnya sambil menghela napas panjang. Kepalanya berat, matanya terasa panas. Hari ini benar-benar melelahkan. Seharian meeting bareng tim, dan sekarang—tengah malam begini—dia masih harus berurusan dengan permintaan revisi dari Mia.
Mia ingin mengganti seluruh konsep acara yang udah susah payah dia dan timnya susun. Alasannya simpel. ia merasa spotlight-nya masih kurang, dan ingin lebih dominan dibanding partner-nya nanti. Setelah perdebatan alot yang bikin emosi Dika teruji habis-habisan, Mia akhirnya mengalah, konsep lama tetap dipakai.
Meski akhirnya menang secara teknis, hati Dika rasanya justru kosong. Kalimatnya Hao terngiang lagi di kepala. "Bulol jangan dipelihara, Dik..."
Mungkin Hao benar. Tapi rasa sukanya ke Mia memang sebesar itu. Dika rela melakukan apa pun asal Mia bisa kerja dengan senang hati. Ya, mungkin Dika memang bulol.
Dika keluar dari kantor menuju parkiran. Angin dini hari cukup menusuk kulit. Tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok Tifa berdiri sendirian di depan pagar, seperti sedang menunggu seseorang. Aneh. Anak-anak lain kan udah pulang dari tadi.
"Ngapain lo?" tanya Dika sambil menghampirinya.
Tifa menoleh cepat, kaget. "Udah kelar, Mas?" tanyanya, terdengar sedikit khawatir.
Dika hanya mengangguk. "Mau balik gue. Udah setengah tiga, anjir! Lo kenapa belum balik?"
Tifa tersenyum tipis, lalu menjawab, "Ini mau balik kok. Nungguin Mas Dika tadi. Syukur deh kerjaannya udah kelar. Aku balik ya, Mas. Hati-hati di jalan."
Dia melangkah pergi dengan santai, tapi langkahnya itu justru bikin Dika bengong. Matanya tertuju pada gantungan kunci bergambar ikan dan menara Petronas di ransel Tifa, oleh-oleh dari Dika waktu itu.
"Oi! Tip!" panggil Dika tiba-tiba.
Tifa langsung berhenti dan berbalik arah. "Ya, Mas?" tanyanya.
"Lo balik sama siapa?"
"Ojol kayaknya. Baru mau order sih," jawabnya santai.
Dika langsung melotot, ekspresi khawatirnya nggak bisa disembunyikan. "GILA LO?! Ini tengah malam, Woi! Lo mau pulang naik ojol?! Kalo terjadi apa-apa gimana?!"
Tifa cuma senyum kecil. "Kalo udah takdirnya mau gimana, Mas? Jalanin aja."
Dika melotot lebih kenceng. Kali ini bukan cuma khawatir, tapi juga kesal. "Inget keluarga lo di rumah! Jangan asal nyebut gitu! Udah, lo pulang sama gue."
Tifa terdiam. Matanya membesar sedikit, bingung. Dia nggak salah dengar kan barusan?
"Tapi kan kosan Mas Dika nggak searah sama kosan aku?" tanyanya pelan. Ada nada nggak enak di suaranya. Dia nggak mau nyusahin.
"Apaan sih, Tip. Nggak masalah. Udah, ayok pulang! Ntar makin malem," potong Dika cepat, lalu langsung jalan ke arah motornya.
Tifa masih berdiri mematung beberapa detik, baru kemudian nyusul. Hatinya hangat.
"Nih," kata Dika sambil ngeluarin helm dari jok motornya.
Tifa menerimanya dan langsung pakai. Wajahnya nggak bisa sembunyiin senyum. Dia naik ke motor Dika dengan hati yang berdebar-debar.
"Jangan peluk-peluk gue, lo!" peringatan Dika keluar tiba-tiba.
"Iya," jawab Tifa ketus. Niatnya ketahuan deh.
Mereka mulai melaju menembus jalanan Mampang yang mulai lengang. Meski masih ada beberapa kendaraan lewat, suasananya udah jauh lebih sepi. Jakarta memang kota yang nggak pernah benar-benar tidur. Kosan Tifa sebenarnya nggak jauh dari kantor, tapi karena Dika harus muter untuk balik ke Akinda, ya lumayan juga jaraknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kos Akinda
FanfictionKos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas pria dewasa dengan karakter, latar belakang dan drama masing-masing, dipaksa berbagi atap yang sama. Ada yang sibuk mengejar cinta, ada yang...
