69. Akhir Sebuah Kisah

863 86 39
                                        

Hallo Guys, sorry ya aku ngilang semingguan hahaha. Btw kemaren aku lagi nggak ada ide dan sempet sakit. Huhuhu tapi alhamdulillah sekarang udah mendingan dan bisa nulis lagi walaupun ya idenya ala kadarnya aja Hahaha semoga kalian masih terus mau baca cerita ini ya. Hehehe selamat membaca all :) Luv u!<3

**********************************************

2 Hari menjelang bulan Ramadhan, Ochi terlihat sibuk dengan kalender di tangannya. Malam ini dia bela-belain keluar dari sarangnya cuma buat nyari kalender gratisan dari caleg kemaren. Kebetulan ada warga yang nyaleg di dekat kosan dan Akinda dapat jatah sembako sama kalender dinding yang ada foto beliou.

"serius banget? nyari apaan sih lu?" tanya Syahrez heran, daritadi dia memperhatikan gerak-gerik si Ochi yang terlihat tidak biasa itu.

Ochi yang masih sibuk dengan kalender dan spidol di tangannya hanya melirik ke arah Syahrez sejenak lalu kembali sibuk dengan deretan tanggal dihadapannya.

"woi? Nyari apa?!" karena saking nggak sabarannya, Syahrez bela-belain bangkit dari tempat duduknya dan nyamperin Ochi di sofa sebrang.

"apasih bang" Ochi buru-buru menutupi kalender tersebut agar tidak terlihat oleh Syahrez.

Tapi namanya juga si Babeh, mana mau dia ngalah. Langsung kalendernya direbut paksa dari tangan Ochi.

Ochi tak punya daya kemampuan apapun untuk melawan tenaga Syahrez yang kalo udah maksa, maksa banget. Akhirnya kalender itu sampai ke tangan yang bersangkutan. Dilihatnya deretan angka yang sudah dilingkari Ochi tersebut dengan kening yang berkerut-kerut.

"maksudnya apaan?lo ngelingkarin apa Chi?" tanyanya sambil menatap Ochi heran

Ochi mendengus kesal, "ngitung kapan lebaran" jawabnya malas

"ASTAGAAAAA!"

Kalendernya langsung digulung dan digeplakin ke kepala si Maung.

"PUASA JUGA BELUM! UDAH NGITUNG LEBARAN AJA LO!" omelnya kemudian.

"sakit anjir!" ringis Ochi sebel kepalanya digetok si babeh.

"ya lagian lo ada-ada aja dah. Malah ngitungin lebaran.."

Ochi garuk-garuk kepala sendiri, "namanya juga penasaran"

Emang ada aja jawabannya.

"puasa dulu yang bener kampret! baru mikirin lebaran. Ini juga belum mulai puasanya..." Syahrez masih lanjut ngomel

"gue memperkirakan kapan THR cair"

Syahrez menatap Ochi sejenak sebelum menoyor kepala pria itu lagi, "duit aja isi kepala lo" katanya galak.

"dih..."

"gue kan mau mudik. Jadi harus mikirin kapan mau beli tiket pesawat" bela Ochi tak terima dituduh isi kepalanya cuma duit. Padahal emang iya.

Syahrez meletakan kalender di tangannya ke atas meja lalu mengambil posisi duduk disebelah Ochi.

"kalo nunggu THR dulu apa nggak keburu mahal Chi tiketnya?" tanya si Babeh bingung. Setau Syahrez, kalau semakin dekat ke hari Raya Idul Fitri, harga tiket pesawat semakin mahal.

"gue rencananya mau beli pake paylater dulu, bang. Begitu dapat THR baru gue lunasin"

"makanya gue ngitung-ngitung tanggal berapa THRnya cair, biar gue bisa ngitung juga kapan bisa beli tiket supaya jatuh tempo paylaternya abis gue nerima THR" jelas Ochi lagi. Ngutang pun pake siasat. 

"oohhhh" Syahrez manggut-manggut. Emang seharusnya dia nanya dulu sebelum menghakimi si Maung. Sekarang Syahrez malah jadi kasian sama Ochi. Susah bener ternyata hidupnya. Mau mudik aja harus pake paylater dulu. Hiks.

Kos AkindaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang