15. Tamu Dari Jauh

1.2K 114 2
                                        

Hari yang selama satu bulan terakhir sukses bikin kepala Syahrez cenat-cenut akhirnya benar-benar tiba. Sabtu pagi ini sudah terasa riwehnya, rumah Syahrez di kawasan Jakarta Timur itu tak berhenti didatangi orang. Satu per satu mobil masuk, suara tawa, sapaan keras, dan langkah kaki saling bersahutan.

Seluruh keluarga besar dari pihak ibunya sudah berkumpul. Wajar saja, dibandingkan rumah saudara-saudara ibunya yang lain, rumah Syahrez memang yang paling besar dan luas. Halaman depan dan belakangnya lega, cukup untuk menampung kursi, meja, bahkan anak-anak yang berlarian tanpa takut menyenggol apa pun. Untuk ukuran di Jakarta, rumah dengan halaman depan dan belakang seperti ini jelas bukan sesuatu yang umum kecuali memang milik keluarga yang sudah mapan sejak lama.

Kurang lebih lima puluh orang hadir hari itu. Ada abang, kakak, adik, beserta pasangan masing-masing, anak-anak, sampai cucu-cucu yang jumlahnya bikin kepala tambah pusing kalau harus diingat satu per satu. Mereka datang dari berbagai daerah, sengaja meluangkan waktu untuk family gathering yang tertunda. Pasalnya, saat lebaran Idul Fitri kemarin, keluarga besar ini gagal berkumpul karena masing-masing sudah punya agenda sendiri.

Berbeda dengan anggota keluarga lain yang datang sejak pagi, Syahrez justru sengaja muncul tepat di hari H. Alasannya sederhana tapi krusial, dia malas ditanya-tanyain soal pasangan oleh ibunya. Namun hari ini dia merasa cukup tenang. Bagaimanapun, Syahrez sudah menyiapkan kartu AS-nya. Begitu kartu itu dikeluarkan, dia yakin ibunya bakal langsung menghentikan misi perjodohan antara dirinya dengan gadis asal Batam itu.

"kamu tu gila ya Choi? Kan mamah udah bilang, Sonya udah di Jakarta. Maksud kamu apa nggak mau ngelanjutin perjodohannya?" si mamah ngamuk-ngamuk begitu anak bungsunya ini bilang nggak mau dijodohin sama Sonya. Iya, perempuan itu namanya Sonya. Di rumah, Syahrez dipanggilnya tetap Choirul.

"kok gila? Kan aku udah bilang sama mamah, aku udah punya pilihan sendiri" ngegas adalah passion keluarga ini.

Si Mamah tampak menghela nafasnya panjang, napas yang jelas mengandung campuran kesal, capek, dan rasa nggak percaya. "mamah getok kepalamu ya kalo yang kamu bilang itu Zalina" Ancam ibunya serius. Si mamah juga tahu soal kebucinan dan ketulilan Syahrez yang belum bisa move on dari mba Zalina meskipun entah dimana rimbanya saat ini.

"enak aja! Aku udah move on dari dia ya! Mamah nggak usah khawatir. Nanti aku kenalin sama orangnya" kata Syahrez percaya diri.

Padahal, dalam hati kecilnya, Syahrez sendiri belum sepenuhnya yakin dengan kalimat barusan. Tapi dia sudah memantapkan niat untuk menolak perjodohan itu dan mengenalkan calon pilihannya sendiri. Walaupun belum tahu siapa orangnya, yang penting urusan omongan dengan mamah kelar dulu. Soal detail bisa dipikirkan belakangan.

Setelah semua tamu undangan akhirnya lengkap dan halaman rumah penuh sesak, acara keluarga itu resmi dibuka oleh Malik. Awalnya Syahrez berniat mendatangkan grup band Wali sebagai hiburan, tapi karena rencana itu gagal total, barulah dia sadar satu hal penting, Malik ini kan artis juga. Akhirnya, dengan sangat terpaksa—lebih tepatnya dipaksa—Malik didaulat menjadi MC acara keluarga besar tersebut. 

Team Akinda pun ikut datang hari itu. Alasannya bukan sekadar ikut meramaikan, tapi lebih ke antisipasi. Siapa tahu ada baku hantam antara Syahrez dan ibunya, mengingat tensi keluarga ini bisa naik kapan saja tanpa aba-aba. Mereka sendiri pun sebenarnya nggak tahu rencana besar Syahrez hari ini bahwa dia berniat mengenalkan seseorang yang spesial. Bang Syahrez kadang-kadang memang misterius... dan sering bikin kaget orang di saat yang sama.

"Aman, Bang?" Tanya Booby yang baru semalam sampai di Jakarta dan pagi ini sudah nongol di rumah Syahrez

Syahrez menyengir tidak jelas. "Aman lah! Gue gitu lho," jawabnya jumawa.

Kos AkindaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang