"sialan! udah jam segini belom nyala juga!" Johan ngomel-ngomel sambil memakai sepatunya
"anjing Bang Anjing!" Ochi ikut memaki lalu grasak-grusuk nggak jelas
"emang ada kejadian apa sih? sampe mati lampu selama ini?" gerutu Dino kesal
Semalam, sebuah truk menabrak pohon besar di jalan utama menuju Akinda. Benturannya cukup keras sampai pohon itu tumbang, menyeret kabel-kabel listrik di atasnya ikut roboh. Sejak itu, aliran listrik di area kosan padam total.
Perbaikan masih berlangsung hingga pagi ini, tapi belum ada tanda-tanda listrik bakal menyala dalam waktu dekat. Dampaknya bukan cuma gelap, tapi juga air ikut habis. Anak-anak Akinda memang punya kebiasaan buruk, nggak pernah ngisi bak mandi sampai penuh.
Akibatnya, pagi ini sebagian besar penghuni kos terpaksa berangkat lebih awal ke kantor hanya demi satu tujuan mulia, mandi.
Cuma Wisnu dan Malik yang terlihat santai. Mereka sudah mandi sejak subuh karena bak mandi di kamar mereka selalu terisi penuh. Yang lain mau numpang pun rasanya nggak enak, airnya pasti tinggal sedikit.
"supirnya ngantuk atau gimana sih?" tanya Dika sambil mengucek-ngucek matanya. Bahkan cuma buat cuci muka saja, air di kamar mandinya sudah nggak cukup.
"ngindarin lobang gede yang di depan jalan. Supirnya kaget ternyata lobangnya gede banget. dia ngehindar eh malah nabrak pohon," jelas Syahrez.
Sejak pagi-pagi buta tadi, Syahrez memang sudah ke lokasi kejadian. Sebagai yang paling dituakan—dan perwakilan dari pemilik kos—ia merasa punya tanggung jawab buat memastikan apa yang sebenarnya terjadi sampai listrik Akinda mati total.
"nggak lucu banget kita mandi di bandara, Non," kata Willy sambil bersandar malas di sofa.
"mau ke mana lo?" tanya Syahrez kaget. Perasaannya kemarin nggak ada yang bilang mau keluar kota.
"baru diacc Bang Willy semalem," sahut Vernon.
Mereka berdua terlihat sudah rapi, siap berangkat.
Alis Syahrez terangkat sebelah. "emangnya mau ngapain?"
"Ada investor dari luar yang mau ketemu. Mau invest ke studio gue. Rada males sih sebenernya kalo pake investor, tapi tawarannya oke juga gue pikir-pikir. Yaudah, tadi malam gue iyain buat ketemu," jelas Willy enteng.
Yang dengar penjelasan itu rasanya ikut berat. Investor dari luar, tapi Willynya bilang males? Duitnya sebanyak apa coba sampai investor nggak bikin dia tergoda?
"sinting lu," ucap Johan nggak habis pikir.
"hahahaha," Willy terkekeh.
"males, Han. Nggak bebas kalo ada investor. Kadang ngatur banget, nggak sesuai passion gue."
"kok Vernon ikut?" tanya Juna penasaran.
"investornya dari Boston katanya. Jadi gue bawa Vernon buat jadi translator."
"anjing, lo mau ke Boston?!" sahut Ochi kaget.
Willy memutar bola matanya malas. "gue bilang investornya yang dari Boston! Ketemuannya di Bali. Dia sekalian liburan."
"ohh... kirain."
"lah terus ini lo mau ke Bali?" Syahrez masih belum mudeng.
"iya, ke Bali. Flight jam 10.00 nanti."
Nada Willy terdengar datar, tapi jelas kesabarannya lagi diuji. Pagi-pagi belum mandi, listrik mati, ditanyain bertubi-tubi.
"diantar siapa, Non?" tanya Wisnu canggung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kos Akinda
FanfictionKos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas pria dewasa dengan karakter, latar belakang dan drama masing-masing, dipaksa berbagi atap yang sama. Ada yang sibuk mengejar cinta, ada yang...
