"Hoaaam..."
Willy menguap entah untuk yang keberapa kalinya siang ini.
"Wisnu balik hari ini kan?" tanyanya. Kebetulan ia baru saja turun dari singgahsananya, menyapa rakyat jelata penghuni lantai satu.
"Yoi bang, lagi otw dari RS katanya," sahut Dika.
Saat ini anak-anak Akinda sedang berkumpul di ruang TV, menunggu kepulangan Wisnu ke kosan. Kalau soal kesetiakawanan, jangan pernah ragukan Willy. Buktinya, dia rela turun ke lantai satu. Sesuatu yang jarang terjadi kecuali urusan super penting.
Biasalah, businessman. Time is money cuy!
Setelah tiga hari dirawat di rumahnya, Wisnu akhirnya kembali ke Akinda hari ini. Dan sampai detik ini, masih menjadi misteri besar, siapa yang menjaga dan menemani Wisnu selama di rumah?
Nggak ada yang percaya dia sendirian. Tapi menuduh Mbak Fina juga terasa mustahil. Image Fina di mata mereka bukan tipe perempuan agresif yang rela menguntit gebetan ke mana-mana. Bagi anak-anak Akinda, Fina terlalu "waras" untuk melakukan hal senekat itu.
"Wisnu sama siapa, Jo?" tanya Syahrez. Soalnya yang ngasih info soal kepulangan Wisnu ya Joshua.
"Siapa lagi lah," jawab Joshua sambil terkekeh kecil.
Dika dan Johan langsung saling pandang. Emangnya siapa? Mereka kan nggak tahu apa-apa.
"Fina?" sambar Ochi cepat. Dari dulu instingnya sudah berisik soal hubungan Wisnu dan rekan kerjanya itu.
Joshua tersenyum. "Iya," jawabnya enteng.
"TUH KAN!" Ochi sampai berdiri saking kagetnya. Validasi hidup.
"Oke deh, soal yang nolongin ke rumah sakit masuk akal," Johan mulai menghitung logika. "Lah ini nemenin buka perban juga dia? Aneh banget."
"Lo semua buta apa gimana sih?" sahut Malik santai. "Mereka udah sejelas itu kali."
Sejujurnya Malik sudah nggak kaget. Buat dia, Wisnu dan Fina tuh udah terlalu transparan.
"Eh bang..." Dino mendadak bersuara dengan nada serius.
Seketika semuanya fokus ke si bontot.
"Gue lupa ngebahas ini sama lo semua," katanya pelan tapi penuh tekanan.
"Waktu gue mau sholat di rumah Bang Wisnu, gue ngambil wudhu di toilet luar. Soalnya di kamar Bang Wisnu ada Bang Johan."
Semua menyimak. Khidmat.
"Terus gue salah masuk kamar. Kebuka kamar sebelah kamar Bang Wisnu."
Dino memasang ekspresi misterius. "Lo tahu nggak ada apa di sana?"
"APAAAAN?! Buruan cuk!" Bahkan Willy yang biasanya paling nggak peduli ikut maju sedikit.
"ADA FINA LAGI SHOLAT."
"HADEEEEUH—"
Semuanya langsung melongos.
"Emang iya, tulil!" gerutu Ochi. "Wisnu kan udah bilang dari awal dia lagi sholat."
"Kirain lo nemuin apaan anjir!" maki Malik kecewa.
"EH TUNGGU DULU! GUE BELUM SELESAI!" Dino buru-buru narik perhatian lagi.
"Di kamarnya ada koper bang! KOPER! Warna PINK! Nggak mungkin itu koper Bang Wisnu. Lo semua tahu sendiri, hidup Bang Wisnu cuma kenal dua warna, hitam sama putih."
Karena keseringan pakai outfit monokrom, anak-anak Akinda sampai yakin Wisnu nggak tahu warna lain di muka bumi ini.
"Ah masa sih, Din?" Syahrez masih ragu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kos Akinda
FanfictionKos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas pria dewasa dengan karakter, latar belakang dan drama masing-masing, dipaksa berbagi atap yang sama. Ada yang sibuk mengejar cinta, ada yang...
