03. Kuala Lumpur, Here we Go

2.6K 168 3
                                        


Hari yang ditunggu-tunggu team Akinda pun akhirnya tiba. Malam nanti, mereka akan berangkat menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Walaupun masih beberapa jam lagi, semua udah nggak fokus nyelesaiin kerjaan di kantor masing-masing. Udah pengen cepet-cepet balik ke kos dan langsung berangkat ke Bandara.

"Mas Dika perginya berapa hari?" ini dia si Tifa yang sering banget diceng-cengin anak-ana Akinda sama Dika .

Dika masih sibuk ngetik kerjaan di laptopnya, "ya Allah, tip. Nanya mulu deh lo. Cuma 4 hari kok" jawab Dika tanpa melihat ke arah Tifa sama sekali.

Gadis itu hanya mengangguk. Kayaknya Mas Dikanya lagi nggak mau diganggu.

"Lo nggak papa kan..?" Tanya Dika yang tiba-tiba jadi nggak enak pergi liburan tapi nitipin kerjaan seabrek sama asistennya tersebut.

Tifa geleng-geleng sambil tersenyum, "nggak papa kok Mas Dika. Selamat liburan ya" ucapnya tulus.

Dika menghentikan gerakan jari jemarinya diatas keyboard laptop, kok rasanya jadi sedih diucapin selamat liburan sama Tifa?

"Mau oleh-oleh nggak lo?" tawar Dika pelan. Sebenarnya ia juga gengsi nanyain ini ke orang yang jelas-jelas naksir sama dia. Takut geer aja nanti anaknya.

"Mau apa mas?" tuh kan suaranya Dika kecil banget sampai Tifa sendiri nggak dengar masnya ini ngomong apa.

Dika berdehem, "mau oleh-oleh?" ulangnya

Tentu saja yang ditanyain langsung senyum-senyum nggak jelas. "MAUU DONGG!" serunya girang.

"Jangan makanan tapi ya mas..."

"Lah kenapa? Suka-suka gue dong mau beliin apa" ujar Dika nggak seneng diatur-atur.

"makanan nggak ada kenangannya, nggak bisa aku pamerin ke orang-orang kalo itu oleh-oleh dari Mas Dika. Nggak bisa aku pajang di kosan juga" jawabnya jujur.

Dika menelan ludahnya sendiri, kenapa jadi grogi gini ya rasanya? Padahal dia kan udah sering diginiin sama Tifa? Harusnya udah kebal.

"Mainan kunci gitu?" tanya Dika memastikan

"Terserah mas Dika, yang penting berbentuk barang ya mas"

"Mau lo pamerin ke siapa sih, Tip?"

"Mbak Mia" jawab Tifa sambil meledek Dika. Dia tahu Dika naksir berat ke Mia. Tapi cintanya tentu saja bertepuk sebelah tangan.

Dika menatap Tifa datar, "lo pikir dia bakal cemburu gitu gue kasih lo mainan kunci gambar menara petronas? Dia bisa beli sendiri bahkan lebih banyak dari yang gue kasih ke elo"

Tifa tersenyum penuh arti ke arah Dika, "bukan jumlahnya, harganya atau bentuknya. Tapi dari siapa yang ngasih. It could means nothing to you but it would means everything to me, Mas" ucap Tifa lalu langsung kabur dari ruangan mereka karena pastinya dia sendiri udah kepalang malu dari tadi ngegombalin atasannya ini.

Sementara itu Dika hanya bisa menarik nafas dalam-dalam,

"Bocah priiiikkk!" ucapnya geram.

****

"Yang lain mana sih, Lik? Niat berangkat nggak sih mereka?" Johan ngedumel mulu daritadi karena udah jam setengah 6 tapi belum ada tanda-tanda kepulangan yang lain.

Johan sama Malik emang udah beres siap-siap dari tadi. Tas ransel Johan bahkan udah nangkring di ruang TV bersebelahan sama koper cabinnya Malik. Willy dan Vernon juga udah siap tinggal turun dari persemediannya di lantai 2. Sedangkan Hao baru selesai mandi.

"Sabar Bang, namanya juga Jakarta. Macetlah." jawab Malik santai

"Si Syahrez, Ochi sama Dino juga lama banget dah. Jam kerjanya kan cuma sampai jam 4. Gue aja bisa kabur dari jam 4 tadi kok" Paduka masih lanjut ngomel-ngomel

Kos AkindaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang