Suara gema takbir berkumandang hingga ke Akinda. Menandakan hari raya Idul Fitri akan segera tiba. Sayangnya di malam takbiran yang penuh suka cita ini, Suasana kosan sudah mulai sepi karena hanya tinggal Joshua, Hao, Juna, Vernon dan Johan disana. Sisanya sudah berangkat mudik ke kampung halaman dan rumah masing-masing. Terakhir ada Dika yang tadi diantar Hao ke stasiun karena mau balik ke Bandung malam ini.
"Balik sekarang, Han?" tanya Joshua melihat Johan sedang siap-siap pulang ke rumahnya. Johan terlihat sibuk mengecheck ulang isi ranselnya.
"yoi!" sahutnya sambil menutup kembali ransel tersebut.
"Syahrez jadi kesini nggak?"
Joshua yang baru keluar dari kamarnya mengangguk tak pasti.
"katanya sih gitu"
"tapi belum ada info apa-apa lagi" sahut pak Dokter lalu duduk disebelah Johan
"oh yaudah, gue nggak bisa nunggu dia nih. Udah diteleponin nyokap buat bantuin dia majang lukisan. Biasalah orangtua kalo lebaran ada aja yang dibeli" kata Johan sambil menyandang tasnya. Muka Johan sedikit cemberut. Kayaknya dia kesal disuruh balik ke rumah cuma buat majang lukisan yang baru dibeli ibunya tersebut.
"Hahaha" Joshua tergelak melihat ekspresi kesal Johan barusan
"yaudah duluan sana. Maaf lahir bathin ya, Han. Selamat lebaran"
Johan lantas tersenyum mendengar ucapan lebaran dari Joshua, disambitnya bahu Joshua pelan.
"hahaha kacau. Aneh banget denger lu minta maaf" ucapnya sambil tertawa
"sialan hahaha, dimaafin nggak nih?" tagih Joshua sambil mengulurkan tangan kanannya ke Johan
Meskipun terkenal sebagai pria gentleman dan bertutur kata sopan dan halus, Egonya si Joshua ini gedenya saingan sama pantung pancoran. Dia paling susah minta maaf. Apalagi kalau kesalahannya nggak serius-serius banget. Tapi anehnya hari ini ia tiba-tiba mohon maaf lahir dan bathin. Biasanya setiap lebaran dan ada momen maaf-maafan, dia cuma ikutan ketawa.
Lagi-lagi Johan tersenyum, "gue maafin. Sekalian gue juga minta maaf ya Jo."
"yoi. Salam sama keluarga lo ya. Bisa kali lebaran ketiga pada ngumpul disini?" minta Joshua serius
"anjir, kalo bisa lebaran kedua balik kesini, gue balik deh Jo. Malesin banget di rumah dan ketemu sodara-sodara ngeselin yang tiap saat nanya kapan nikah-kapan nikah. Gue nikah juga dia kagak bantu apa-apa. berisik" keluh Johan tentang kebiasaan keluarga besarnya yang suka nanyain kapan dia nikah. Menurut Johan pertanyaan itu menyebalkan dan mengganggu kestabilan mentalnya.
"Hahaha, yaudah balik sini hari kedua. Nyokap gue datang juga nih. Pasti bawa makanan enak!"
"Ah Babi..." kata Johan malas
"heh!"
Joshua langsung melototin temannya yang nggak tahu diri ini.
"ditawarin makan malah gue dikatain babi" sungutnya tak terima
"bukan itu maksud gue hahahaha"
"Makanannya pasti babi. Gitu." Johan buru-buru meluruskan sebelum Joshua makin salah paham
"ohhh"
"ya nggak babi juga. Nyokap kan tau mayoritas disini muslim. Tenang aja, Han"
"nah kalo gitu gue semangat balik! Hahaha" ujar Johan sambil mengacungkan jempolnya ke Joshua
"gue berangkat ya, Jo. Jaga kosan yang baik" pesannya belagak kayak yang punya Akinda.
"siap ndoro" balas Joshua sambil menunduk ke paduka
KAMU SEDANG MEMBACA
Kos Akinda
FanficKos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas pria dewasa dengan karakter, latar belakang dan drama masing-masing, dipaksa berbagi atap yang sama. Ada yang sibuk mengejar cinta, ada yang...
