"Ini kenapa reschedule semua?" tanya Joshua dengan nada bingung. Tangan kirinya refleks memijit pelipis, sementara tangan kanannya masih memegang catatan pasien yang baru saja disodorkan oleh perawat.
Ia benar-benar tidak habis pikir. Dalam tempo kurang dari satu jam, jadwal persalinan yang harusnya berlangsung minggu depan kini berbondong-bondong dimajukan jadi malam ini. Bahkan, tanpa pemberitahuan masuk akal.
"Ada emergency casenya? Sampe lahiran kompak semua?" tanya Joshua lagi, kali ini dengan nada lebih tajam. Ia sudah terlalu lelah dan mulai merasa ada yang aneh.
Mbak-mbak perawat di sekelilingnya saling menatap. Mereka juga tampak kebingungan.
"Gini dok..." salah satu dari mereka akhirnya buka suara dengan ragu, "...Nyonya Karin ini anaknya Prof. Eki. Prof. Eki minta tolong dokter Joshua yang handle anaknya. Anaknya ngefans banget sama dokter. Dia udah nyiapin fotografer sama videografer juga, pokoknya dokter Joshua harus in frame katanya. Buat engagement di Instagram-nya, dok..."
Kalimat itu seperti menyiram bensin ke bara emosi Joshua. Prof. Eki. Nama yang cukup familiar. Dia adalah dosen sekaligus pembimbing Joshua waktu masa spesialis dulu. Tapi bukan berarti status itu bisa seenaknya dijadikan alasan menitipkan pasien demi konten media sosial.
"Do I need to care?!" sahut Joshua ketus, nada Inggris-nya muncul begitu saja. Kalau bahasa Inggrisnya sudah keluar, itu tandanya kesabarannya benar-benar habis.
Sebenarnya Joshua bukan tipe dokter yang suka membentak atau marah-marah. Ia dikenal sabar dan cukup berserah pada ritme kerja di rumah sakit. Tapi yang satu ini benar-benar di luar batas toleransinya. Menyuruh pasien caesar hanya demi konten sosial media? yang benar aja!
"Bilang sama Prof. Eki, maaf saya nggak bisa bantu. Saya harus ketemu sama 3 pasien saya yang lain. Yang emang dari awal kehamilan saya dokternya," tegas Joshua sambil menatap lurus.
"Dok, nggak bisa... Nyonya Karin udah di dalam ruang operasi..." suara perawat itu mengecil, nyaris seperti bisikan.
"HAH?!"
~~~~
Joshua pulang ke kos Akinda sekitar jam dua siang. Udara panas Jakarta di luar membuat kulit terasa lengket, sementara matahari terasa terlalu terik untuk tubuh yang sudah bekerja sejak malam sebelumnya tanpa tidur sedikitpun.
Seperti yang diduga, kosan terlihat lengang. Penghuninya rata-rata sudah berangkat kerja dari pagi. Dan saat ini Joshua hanya ingin satu hal yaitu tidur. Tubuhnya sudah seperti karung beras yang diseret bolak-balik. Kepala terasa berat, matanya panas. Tapi saat ia hampir masuk ke kamarnya, dua sosok familiar muncul dari tangga lantai dua.
"Woi? Pada nggak kerja?" tanya Joshua, alisnya naik, sedikit heran. Ini hari Senin dan dua manusia paling sibuk di Akinda—Syahrez dan Johan—malah cengengesan nggak jelas. Seperti tidak ada beban hidup.
"Cuti lah. Si Ochi juga di atas lagi ngebo dia. Kita abis main dari sana," jawab Johan ringan sambil menunjuk ke arah lantai atas.
"Sepet amet tuh mata? Jadi lahiran semua pasien-pasien lo?" tanya Syahrez, memperhatikan mata Joshua yang terlihat sembab dan lelah.
"Jadi. Orang pada egois semua. Ngejar tanggal cantik buat status di sosmed. Jaman makin gila emang," jawab Joshua sambil menghembuskan napas panjang. Nada bicaranya penuh kejengkelan yang ia tahan sejak tadi malam.
"Waduh-waduh, serius banget ini kayanya pak dokter... Mau ngopi nggak? Ayo kita bawa ngobrol yuk," ajak Syahrez dengan niat menghibur.
Joshua hanya tersenyum miris, "Nggak deh, Bang. Gue mau tidur aja. Dari balik kemaren belum sempet merem gue, Bang," jawabnya jujur, lalu langsung berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kos Akinda
FanfictionKos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas pria dewasa dengan karakter, latar belakang dan drama masing-masing, dipaksa berbagi atap yang sama. Ada yang sibuk mengejar cinta, ada yang...
